Syarat Diterimanya Ibadah
Bagaimana rasanya ya ketika kita mengerjakan sesuatu namun hasilnya sia-sia? Misalnya ketika dapat tugas kelompok, kita mengerjakannnya sampai tidak tidur semalaman, tapi ternyata apa yang kita kerjakan tidak dipakai dalam kelompok. atau tugas dari dosen yang kita kerjakan berjam-jam, tapi ternyata tidak diterima oleh dosen karena kelewat deadline misalnya. atau berhari-hari mengerjakan proposal PKM atau proposal bisnis, nyatanya ga lolos seleksi administratif karena hanya salah format.. Ya, kekecewaan yang besar tentunya muncul dalam diri kita.
Nah, itu dalam kehidupan kampus, bagaimana untuk kehidupan akhirat? Jika dalam hal duniawi, setiap kegagalan yang kita terima akan ada proses pembelajaran yang kita dapatkan. Berbeda dengan di akhirat nanti, gagal ketika amalan kita dihisab berarti gagal untuk selamanya, ga akan ada lagi yang namanya revisi, atau mengulang untuk memperbaiki amalan kita..
Maka dari itu kita harus mengetahui, apa saja syarat/ketentuan agar amal ibadah kita diterima di sisi Allah Ta’ala. Agar apa yang kita kerjakan tidak sia-sia, dan agar tidak menyesal di akhirat nanti, sudah berletih dan lelah beramal, namun tidak Allah terima amalan tersebut. Read the rest of this entry
Sebuah Renungan
Teramat sering kita memikirkan pandangan orang lain terhadap diri kita. Kita berpikir, apakah orang lain tersebut menyukai penampilan, perilaku, tutur kata kita, atau malah membencinya. dan teramat banyak waktu yang kita keluarkan untuk berusaha membuat orang lain berpandangan positif terhadap diri kita.
Namun, pernahkah kita meluangkan waktu sejenak untuk memikirkan, bagaimana pandangan Allah Ta’ala, Rabbnya manusia, terhadap diri kita. Apakah Allah mencintai hambanya ini? atau malah membencinya..
Jika Allah Ta’ala senang kepada hamba-Nya, Dia menjadikannya senang dengan amalan ketaatan, dan hatinya terhiasi oleh amal shalih yang ia lakukan.
حَبَّبَ إِلَيْكُمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِى قُلُوبِكُمْ
“Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu” [QS al Hujurat:7]
Sedang bila Dia membenci seorang hamba, Dia menjadikannya malas dalam berbuat ketaatan, dan menjadikannya senang dengan kemaksiatan.
كَرِهَ ٱللَّهُ ٱنۢبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ
“Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka” [QS at Taubah:46]
Silakan introspeksi diri kita masing-masing. Bagaimana kondisi hati kita saat melakukan ketaatan? Penuh rasa cinta, takut, dan harap kah? atau dipenuhi rasa kemalasan dan keterpaksaan? Dan lihat kondisi hati kita saat melihat kemungkaran dan kemaksiatan, apakah hati kita terasa panas dan ada keinginan kuat untuk mengingkarinya? atau malah terhanyut oleh lingkungan dan suasana, dan ikut terjerembab dalam hal yang diharamkan.. ‘Iadzan billaah
Biar Ga Isbal, tapi Tetep Gaul
Semua dari kita ingin berpenampilan keren, modis, gaul, dan sebagainya. Memang penampilan itu penting, karena manusia banyak menilai orang dari ‘cover’nya, dan wajib pula bagi setiap muslim untuk berpenampilan baik dan rapih, karena Allah Ta’ala itu indah dan mencintai keindahan. Namun ada beberapa adab dalam berpakaian dan berpenampilan yang perlu diperhatikan, salah satunya ialah TIDAK ISBAL.
Kondisi masyarakat kampus yang heterogen memang menuntut kita untuk bisa menyesuaikan diri, karena banyak yang belum terbiasa atau mungkin memandang miring para ‘cingkrangers’. Maka agar tetap gaul, tetap berbaur tapi tidak melebur, laksanakan perintah Nabi kita sebatas kemampuan kita. Celana boleh kita julurkan MAKSIMAL sampai mata kaki, dan itu lebih selamat dan lebih baik. Karena terlalu tidak isbal (artinya celana hingga pertengahan betis) pun ditakutkan akan menjadi libas syuhroh yg dilarang, yaitu pakaian yg nyentrik yang menjadi bahan pembicaraan negatif di masyarakat. So, tetap berpenampilan menarik tapi sesuai Syari’at! :)
*Isbal= menjulurkan pakaian melebihi mata kaki.
pembahasan seputar isbal bisa dibaca di sini http://addariny.wordpress.com/2009/05/19/ada-apa-di-balik-isbal/
Berjalanlah Selangkah Demi Selangkah
Berkata Syaikh al-Albaniy -rahimahullah-; “Jalan Allah itu Panjang, akan tetapi Kita Menempuhnya layaknya Kura-Kura. dan tujuannya bukanlah dengan engkau sampai pada ujung jalannya, tetapi tujuannya ialah dengan engkau mati di atas jalan tersebut.”
Bagi kita yang menisbatkan diri pada ilmu, dengan menjadi seorang penuntut ilmu syar’i, para ulama salaf lah yang menjadi sosok panutan. Bila melihat para imam kaum muslimin; Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan para ulama lainnya -rahimahumullahu jami’an. Diri ini melihat sosok-sosok yang luar biasa, yang memiliki pemahaman yang mendalam, hafalan yang amat kuat, dan keistiqomahan dalam memegang kebenaran. Mereka telah hafal al Qur’an sejak kecil, hafal ribuan hadits, dan menguasai seluruh cabang-cabang ilmu syar’i.
Bagi kita yang hidup di akhir zaman seperti ini, saat fitnah kian deras menerpa hamba yang mencoba beriltizam untuk senantiasa berada di atas al haqq. Mungkin ringan bagi sebagian orang yang Allah berikan nikmat padanya, untuk mengkhatamkan(menghafal) al Qur’an, ribuan hadits, matan-matan ilmiah para ulama. Namun banyak dikalangan penuntut ilmu syar’i yang kesulitan atau bahkan jauh dari hal ini. Terutama yang hidup di lingkungan yang tidak mendukungnya untuk merealisasikan hal tersebut, hidup di lingkungan kampus sekuler, tempat kerja yang masih terdapat ikhtilath, ataupun para tetangga/masyarakat yang mengumbar aurat&maksiat. Tetapi itulah resiko para penggenggam bara api sunnah, ia hidup dan menyebar di tengah masyarakat namun dalam keterasingan.
Ingatlah kawan, yang diwajibkan atas kita ialah mempelajari dan mengamalkan syari’at semampu kita, secara bertahap sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah, diiringi keikhlasan dalam hati, hingga ajal menanti. Semoga kita meninggal setelah baru saja menghafal dan memurajaah al Qur’an, saat baru saja menghafal hadits-hadits Nabi. Meninggal ketika sedang memangku kitab-kitab para Ulama (setelah baru saja membacanya).
Demikian, sebuah perkataan emas dari seorang ulama rabbaniy yang penting untuk kita renungi. Bahwa amal yang sedikit namun berkelanjutan itulah amal yang paling Allah cintai. Semoga Allah berikan kita keistiqomahan untuk senantiasa berada di atas ash-shiraath al-mustaqiim.. Aamiin
Cinta Karena Allah?
Tulisan ini untuk para pecinta, yang hatinya terbawa pada syahawat berbalut syubuhat..
Katanya sih cinta itu tabiat yang pasti ada pada setiap diri manusia. Jatuh cinta pada si akhi atau si ukhti, yang katanya mendekatkan diri pada ilahi. Katanya sih mau menjaga hati, agar jangan hati terpaut dan mengurangi keimanan si dia tanpa ia sadari..
Ngakunya sih cinta si dia karena Allah,
Kalau dia sms langsung dibales, kalau dia chatting langsung direspon. Tapi kok ketika adzan(panggilan Allah), ke masjidnya malas-malasan. Ketika da’wah membutuhkannya, ia menghilang(?)
Ngakunya sih suka si dia karena Allah,
Kalau ngobrol sama dia excited banget. Kalau dia cerita, dengan seksama menyimak. Tapi kok ketika sholat(saat berbicara pada Allah), malah seolah beban. Ketika mambaca Qur’an(saat Allah berbicara kepada kita) kok malah jarang-jarang..
Ngakunya sih sayang si dia karena Allah, Tapi kok malah mau diungkapkan. Malah mau menuntunnya pada kemurkaan..
Ingat perkataan ini!:
“Tidak Mungkin seseorang bisa mencintai orang lain karena Allah, kalau dia tidak mencintai Allah melebihi apapun..” [Ust Abdullah Taslim, MA]
Jika memang cinta dia karena Allah, sedang diri belum mampu untuk memberi kepastian (dengan pernikahan), maka simpan dalam-dalam perasaan tersebut, dan ENYAHKAN jika engkau mampu. Sekedar saran, karena cinta yang prematur, yang tidak dilandasi oleh ikatan syari’at hanya akan membawamu pada penyakit hati yang bernama kerinduan..
Patut dibaca nih kawan; http://almanhaj.or.id/content/2074/slash/0/terapi-rasulullah-dalam-penyembuhan-penyakit-al-isyq-cinta/











