BerIslam: mulai dari mana? (1)

Mungkin sudah belasan tahun atau puluhan tahun kita menjadi insan muslim. Namun dengan bilangan waktu yang sedemikian banyaknya tersebut, apakah kita sudah berIslam dengan urutan dan tata cara yang benar? Jika jawabannya adalah belum, maka sungguh ironis hal tersebut.

Berapakah waktu yang telah kita sediakan untuk merenungi perjalanan yang telah kita lalui sebagai seorang insan muslim ? Jawabannya terserah pada diri kita masing-masing.

Alhamdulillah, jika kita sekarang mulai sadar. Lihatlah benar-benar pada diri kita masing-masing ! Apakah kita memang telah telah berIslam dengan cara yang benar, memulainya dengan cara yang benar ? Atau kita cuma ikut-ikutan dengan adat kebiasaan orang tua, teman, atau masyarakat sekitar tanpa tahu hakikatnya ?

Sehingga ujung ajaran Islam kita tidak tahu, pangkalnya pun tak kenal. Lalu sebenarnya bagaimana cara berIslam yang benar ?
Lebih khususnya bagaimana cara memulai berIslam yang benar itu ?

Sebenarnya, pertanyaan ini sangat relevan untuk dikemukakan terhadap diri kita. Alhamdulillah, Islam kini telah menyebar di mana-mana. Seruan untuk menegakkan sholat selalu berkumandang di mana-mana. Perintah untuk berinfaq disampaikan di setiap pengajian. Kewajiban berbakti pada orang tua selalu disampaikan di TPA-TPA. Perintah ini-itu tersebar di mana-mana. Sangat mungkin sekali seseorang yang baru melangkah ke jalan Islam akan bingung melihat begitu banyaknya, lengkapnya, dan sempurnanya ajaran Islam. Ia tidak tahu mana yang harus ia lakukan lebih dulu. Naik hajikah ? Atau membayar zakat maal yang belum ia bayar dulu ? Atau mewakafkan tanah untuk masjid ? Mungkin sekali ia bertanya, ” Saya bingung dengan banyaknya perintah dalam Islam. Apa yang harus saya lakukan pertama kali untuk menegakkan ajaran Islam pada diri saya ?”

Itulah masalahnya, bagaimana mengawali berIslam yang benar itu ?

Inilah jawabannya : Masalah yang sangat mendasar dan yang pertama kali harus dilakukan untuk menapaki Islam dengan cara yang benar adalah: Mencari ilmu tentang Islam itu sendiri,  secara ringkas adalah : belajar Islam dulu sebelum mengamalkannya. Karena pentingnya ilmu tentang Islam itu, maka Rasululloh shallallaahu ‘alaihi wa sallam mewajibkannya pada setiap muslim dalam sebuah hadits yang artinya:

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR: Ibnu Majah, sanadnya hasan).

Karena pentingnya ilmu Islam tersebut dan keharusan menjadikan ilmu itu sebagai awal dari segalanya, maka Imam Bukhory menulis satu bab tersendiri tentang hal tersebut, yaitu : ” Bab : Ilmu itu didahulukan sebelum berucap dan berbuat”. Beliau berdalil dengan firman Allah subhaanahu wa ta’alaa, yang artinya:

“Maka ketahuilah (ilmuilah) bahwa sesungguhnya tiada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah.” (QS: Muhammad: 19).

Secara akal sehat, memang benar pernyataan Imam Bukhory tersebut. Lihat saja, bagaimana mungkin seseorang bisa menegakkan sholat dengan benar padahal ia belum belajar bagaimana tata cara sholat yang benar tersebut. Bagaimana dia bisa berwudhu dengan benar sedangkan ia tidak pernah mau belajar bagaimana tata cara wudhu yang benar ? Bukankah orang yang mau belajar itu pasti lebih tahu dan lebih benar tata caranya daripada orang yang tidak pernah belajar? Maka suatu hal yang tidak akan pernah terbantahkan lagi bahwa menuntut ilmu agama dan mempelajarinya itu merupakan awal penegakan Islam, sebelum beramal dan berdakwah.

Pengertian keharusan mendahulukan ilmu sebelum beramal dan berdakwah tidaklah mewajibkan setiap muslim untuk menjadi seorang ulama yang faqih (paham) dalam semua masalah agama lebih dulu baru beramal dan berdakwah, namun yang dimaksudkan adalah: sebelum kita mengamalkan suatu amalan agama atau meyakini suatu keyakinan dalam agama, kita harus mengetahui bahwa amalan atau keyakinan tersebut ada dasarnya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pengetahuan kita terhadap dasar amalan atau keyakinan tersebut sudah mencukupi bagi kita untuk mengamalkan amalan atau keyakinan tersebut, namun jika kita bisa menghafalkannya itu lebih baik. Namun ironisnya, sangat sedikit sekali orang yang memperhatikan masalah ini (mendahulukan berilmu sebelum beramal dan berdakwah). Bahkan sedikit sekali para da’i yang menekankan masalah ini kepada umat. Mereka menyampaikan perintah sholat, puasa, kewajiban ishlah (perbaikan keadaan umat), ekonomi Islam, politik Islam, bahkan sampai bagaimana mendirikan negara Islam, tapi hanya segelintir orang yang menyampaikan bahwa ilmu itu harus diraih lebih dulu sebelum beramal dan berdakwah. Akibat dari hal itu adalah makin merebaknya penyimpangan-penyimpangan dalam amaliyah Islam dan dakwah Islam.

Karena umat tidak pernah memperhatikan pentingnya ilmu sebelum beramal, maka yang terjadi adalah mereka bersemangat dan berlomba-lomba untuk beramal tapi tanpa didasari ilmu. Sehingga banyak sekali amalan-amalan yang tidak pernah ada sumbernya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah namun dipraktekkan oleh mayoritas umat Islam. Padahal Allah subhaanahu wa ta’alaa berfirman, yang artinya:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS: Al-Israa’: 36).

Alam ayat ini tersiratlah pemahaman bahwa Alloh subhaanahu wa ta’alaa telah melarang kita untuk mengikuti sesuatu yang tidak kita ketahui keadaannya.

Bukankah beramal tanpa mengetahui benar atau tidaknya amalan tersebut termasuk dalam larangan Allah tadi ? Yang lebih parah lagi ialah munculnya da’i-da’i yang tidak mempunyai ilmu yang cukup untuk berdakwah.

Mereka sudah ngalor-ngidul ngetan-ngulon berdakwah, baik di TPA, pengajian remaja, pengajian bapak-bapak, ibu-ibu, khotbah Jum’at, dan lain-lain, tapi ketika ditanya, “Apa saja rukun 2 kalimat syahadat?” ia jawab, ” Tidak tahu, mas..” Padahal 2 kalimat syahadat itu merupakan awal dari segala awal permasalahan agama. Semua amalan dan keyakinan agama pada dasarnya berpijak pada 2 kalimat tersebut. Jika awal dan dasar agama saja tidak paham, bagaimana dapat menegakkan Islam dengan benar? Bagaimana umat akan menjadi baik jika da’i yang membimbing umat saja tidak memahami Islam? Lalu apa yang ia dakwahkan? Jangan sampai terjadi seorang da’i tidak mau belajar Islam dengan benar sehingga malah membuat pemahaman sendiri tentang Islam kemudian ia dakwahkan padahal pemahaman yang ia buat malah menyimpang dari pemahaman yang benar. Na’uudzu billaahi min dzaalik!

Maka marilah kita bersadar diri! Bersegeralah untuk memulai Islam dengan cara yang benar, mulailah dengan mencari tahu tentang Islam, mulailah dengan membaca ilmu-ilmu agama, mencari dasar-dasar amalan yang jelas dari Al-Quran dan As-Sunnah. Hadirilah majelis-majelis pengajian, simaklah firman Allah, sabda Rasulullah sesuai pemahaman yang benar, yaitu pemahaman para Shahabat. Pahamilah maknanya serta introspeksi diri, apakah apa yang telah kita amalkan dan yakini selama ini benar-benar ada dasarnya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Marilah kita raih ilmu, untuk selanjutnya kita amalkan dan dakwahkan!

Wallaahu a’lam.

diambil dari http://assunnah-qatar.com/

About Mahdiy

Seorang penuntut ilmu kecil-kecilan.. ^^

Posted on November 20, 2010, in motivasi and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: