Monthly Archives: Desember 2010

[Hadits Palsu]: Dialog Rasulullah dengan Iblis

Beredar sangat banyak dan sudah lama, hadits tentang dialog antara Rasul mulia dan Iblis terlaknat. Sebagian masyarakat menganggap bahwa isinya baik dan bermanfaat sehingga layak disebarkan padahal hadits ini adalah hadits palsu dan dusta atas nama Nabi dan berisi hal yang bahaya dan mencederai Rasulullah dan shahabat.

Jangan disebarkan kecuali untuk mengingatkan kepada masyarakat bahwa hadits ini palsu dan dusta!

Berikut ini saya sertakan kajian tiga ulama dunia tentang hadits ini:

A. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

Ketika beliau ditanya tentang riwayat ini, berikut jawabannya:

“Ini hadits dusta. tidak terdapat di dalam kitab-kitab muslimin yang dipercaya baik kitab shahih, sunan ataupun musnad. siapa saja yang tahu bahwa ini adalah dusta atas nama nabi maka tidak boleh meriwayatkannya…” (Majmu’ al-Fatawa 18/350) Read the rest of this entry

Mencela Orang Tua

Bismillahirrahmanirrahim

Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Mungkin di antara kita tidak asing lagi dengan kata-kata hujatan atau celaan. Di zaman seperti ini, ungkapan-ungkapan kasar seringkali mendominasi pergaulan terutama pada masa-masa anak-anak menuju remaja. Dan kata-kata tidak terpuji tersebut bahkan menjadi kosakata yang awam dan fasih untuk diucapkan.

Di antara perilaku saling mencela yang sudah mewabah pada pergaulan saat ini, orang tua pun tak lepas dari objek celaan. Tidak asing lagi barangkali bagi kita ketika mendengar cakap-cakap atau candaan mengenai orang tua kerabat atau teman sepergaulan. Dan tak jarang candaan tersebut berakhir dengan saling cela-mencela orang tua. Read the rest of this entry

"Rihlah?" [Sebuah Koreksi]

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, keluarganya, para shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.

Sedikit tergelitik mendengar kata “rihlah”, yang dalam bahasa Indonesia berarti melakukan perjalanan. Namun bukanlah jalan-jalan itu sendiri yang menjadi permasalahannya, akan tetapi isi dari kegiatan tersebut. Nama yang “islami” bukanlah menjadikan kegiatan itu menjadi benar, namun yang menjadi tolak ukur kebenaran adalah apa yang ada di dalam Al Qur’an dan Sunnah.

Mungkin sebagian orang bingung kenapa kata “rihlah” yang menjadi bahasan. Karena kata tersebut identik dengan kegiatan sebagian aktivis Islam yang menisbatkan diri dalam dakwah Islam. Terus, apa hubungannya dengan masalah yang ada di dalam kegiatan tersebut? Read the rest of this entry

%d blogger menyukai ini: