Monthly Archives: Maret 2011

Makan dan Minum Sambil Berdiri, Bolehkah?

Makan dan minum ialah perbuatan yang seringkali (atau bahkan selalu) kita lakukan. Apakah kita berilmu akan adab-adabnya? Masalah yang sering dijumpai ialah makan dan minum sambil berdiri. Ketika menjumpai kursi untuk duduk, maka hal ini tidak jadi masalah, karena hampir setiap  muslim tahu bahwa makan/minum sambil duduk itu lebih utama, dan kemudian kita duduk di kursi tsb untuk makan/minum. Namun ketika tidak dijumpai kursi/tempat duduk, atau sulit untuk mencarinya, terlebih lagi kita berada di dalam keramaian, sedang kita hendak makan/minum, apa yang sebaiknya kita lakukan? Mencari tempat duduk dahulu? atau makan/minum sambil berdiri? bolehkah? Langsung simak saja pembahasan berikut;

Hadits yang Membolehkan;

1. عن ابن عباس قال : شرب النبي صلى الله عليه وسلم قائماً من زمزم

Dari Ibnu ‘Abbas ia bekata : “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah minum air zamzam sambil berdiri” [HR. Bukhari no. 1637]

2. عن النَّزَّال قال : أتي علي رضي الله عنه على باب الرَّحبة بماء فشرب قائماً، فقال: إن ناساً يكره أحدهم أن يشرب وهو قائم، وإني رأيت النبي صلى الله عليه وسلم فعل كما رأيتموني فعلت

Dari An-Nazzaal ia berkata : ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu membawa air ke pintu masjid kemudian meminumnya sambil berdiri. Kemudian ia bekata : “Sebagian orang tidak suka minum sambil berdiri, padahal aku melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukannya Read the rest of this entry

Allah di Langit, Tapi Ilmunya Meliputi Segala Sesuatu

Dimana Allah?

Pertanyaan “Dimana Allah?” memang merupakan pertanyaan klasik, namun sangat mendasar. Bagaimana mungkin ummat Islam yang sumber hukumnya sama yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahiihah masih saja berbeda jawaban ketika ditanya “dimana Allah?”? tentulah karena pemahaman mereka yang keliru, yang lebih memilih menggunakan logika daripada atsar/perkataan dan pemahaman para salaful ummah. Jika kita menilik kembali pertanyaan ini, tentulah fitrah seorang hamba akan mengatakan bahwa Tuhannya ada di atas/di langit. Mereka yang menolak bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya terlalu banyak menta’wil(penginterpretasian bebas) keterangan yang amat jelas baik dalam alQur’an maupun hadits. diantaranya menta’wil kata Istawa(bersemayam) dengan arti istawla(menguasai) pada firman Allah,

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy.” (QS. Al-A’raaf:54)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menetapkan sifat-sifat Allah Ta’ala, tanpa tahrif(mengubah), ta’thil(meniadakan), tamtsil/tasybih(menyerupakan), tafwidh(menyerahkan begitu saja),dan takyif(menanyakan bagaimana).

Dengan tidak menetapkan sifat Allah yang berada di atas arsy-Nya, keyakinan orang yang mengatakan hal tersebut tidak lepas dari 2 hal, yaitu; Read the rest of this entry

Sikap Terhadap Kunjungan Obama ke Indonesia

Sebagai seorang muslim, kita dituntut untuk bersikap bara’(berlepas diri) kepada semua kekafiran dan orang kafir. Sikap bara’ tadi perwujudannya ialah dengan membenci kekafiran mereka dalam hati (ini wajib) dan terkadang kita dianjurkan untuk menyatakannya dengan lisan/perbuatan dalam situasi dan kondisi tertentu (seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim dalam QS Al Mumtahanah:4, dan penghancuran beliau terhadap berhala-berhala kaumnya). Akan tetapi untuk mengingkari dengan lisan dan tangan, haruslah mengindahkan kaidah ‘maslahat dan mafsadat‘; artinya, apa yang kita lakukan haruslah mendatangkan maslahat bagi diri dan agama kita, dan bila tidak demikian maka hal tersebut tidak dianjurkan. Karenanya, jika pengingkaran kita secara lisan (misalnya dengan mencaci maki berhala,orang kafir,dsb) malah menimbulkan dampak buruk bagi diri dan agama kita, hal tersebut menjadi haram. Allah berfirman:

وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

Janganlah kalian mencaci orang-orang yang menyembah selain Allah sehingga mereka membalas mencaci maki Allah tanpa ilmu dan penuh permusuhan.” (QS. Al An’am: 108).

Bara’ kepada kekafiran dan orang kafir juga harus diwujudkan dengan tidak mencontoh tingkah laku mereka yang bertentangan dengan syari’at Islam. Baik itu dalam sisi keyakinan, ibadah, akhlak, maupun mu’amalah mereka.

Bara’ kepada kekafiran dan orang kafir bukan berarti menzhalimi mereka. Kita tetap harus berlaku adil terhadap orang paling kafir sekalipun, dengan memberikan hak-haknya secara Read the rest of this entry

Panduan Ringkas Fiqih Jual Beli

Panduan Ringkas Fiqih Jual Beli

Oleh: Ustadz Abu Yahya Badrussalam,Lc

A. Definisi Al Bai’ (Jual Beli)

Secara etimologi adalah mengambil dan memberikan sesuatu. Adapun secara istilah syari’at yaitu :menukar harta walaupun dalam tanggungan atau dengan manfaat yang mubah bukan ketika dibutuhkan dengan yang semisal, untuk dimiliki selama-lamanya bukan riba bukan pula hutang piutang”.

Penjelasan Definisi

(menukar harta) yang dimaksud dengan harta disini adalah setiap benda yang mubah dimanfaatkan bukan dalam keadaan hajat seperti emas, perak, gandum, kurma, garam, kendaraan, bejana, harta diam dan lain-lain.

(walaupun dalam tanggungan) maknanya bahwa ‘aqad terkadang terjadi dengan sesuatu yang tertentu dan terkadang dengan sesuatu yang dalam tanggungan. Contoh bila engkau berkata :” Aku beli bukumu dengan bukuku ini “. Ini dengan sesuatu tertentu. Tapi bila engkau berkata :” Aku beli bukumu dengan harga sepuluh ribu “. Maka ini dengan sesuatu dalam tanggungan. Masuk pula dalam definisi ini menjual sesuatu dalam tanggungan dengan sesuatu dalam tanggungan seperti engkau berkata :” Aku beli gula satu kilo dengan harga sepuluh ribu “. Lalu si pedagang pergi untuk menakar gula, dan engkau mengambil uang dari saku dan membayarnya.

(atau dengan manfaat yang mubah) maknanya atau menukar harta dengan manfaat yang mubah, seperti membeli manfaat jalan setapak milik orang lain untuk lalu lalang. Keluar dari definisi ini manfaat yang haram seperti alat alat musik dan sebagainya.

(bukan ketika dibutuhkan) keluar darinya barang yang boleh dimanfaatkan ketika dibutuhkan, seperti boleh makan bangkai ketika kelaparan, maka bangkai haram diperjual belikan karena manfaatnya mubah ketika dibutuhkan saja.

(dengan yang semisal) maknanya menukar uang walaupun Read the rest of this entry

Download Jeda Radio RODJA

Siapakah yang Menyuruhmu Untuk Berhijab?
http://mp3.radiorodja.com/files/KUMPULAN_JEDA/jeda_Rodja38_Siapakah_yang_menyuruhmu_untuk_berjilbab.mp3%20

Kematian/maut
http://mp3.radiorodja.com/files/KUMPULAN_JEDA/jeda%20rodja35_almaut.mp3%20

Ibu
http://mp3.radiorodja.com/files/KUMPULAN_JEDA/jeda%20rodja43_Ibu.mp3%20

Shalat Tahajjud
http://mp3.radiorodja.com/files/KUMPULAN_JEDA/jeda%20Rodja58_Shalat%20tahajjud.MP3%20

Apa itu Bid’ah?
http://mp3.radiorodja.com/files/KUMPULAN_JEDA/Jeda_Rodja_Apa_itu_Bid_ah.mp3%20

Waspadai Agama Syi’ah!
http://mp3.radiorodja.com/files/KUMPULAN_JEDA/Jeda%20Rodja_Waspadai_Agama%20_Syiah.mp3%20

Ahmadiyah Bukan Islam!
http://mp3.radiorodja.com/files/KUMPULAN_JEDA/Jeda%20Rodja_Ahmadiah%20bukan%20Islam._Ust%20Abdul%20Hakimmp3.mp3%20

Kesempurnaan Islam
http://mp3.radiorodja.com/files/KUMPULAN_JEDA/Jeda%20Rodja59_Kesempurnaan%20Islam.MP3%20

 

Updates:

Untuk pengunjung blog yg mau Jeda RadioRodja yg lengkap, ana punya (oleh2 dari gresik).
jika ada waktu insyaAllah ana upload semua. File jeda yg udah ana upload bisa antum download di http://www.mediafire.com/?jwzmgu545df74
(include jeda rodja do’a kesedihan_ust badru, kesombongan_ust armen, taubat_ust firanda, akhlaq_ust maududi, jeda bom bunuh diri, dll)

Untuk mendownload tinggal klik kanan judulnya, pilih save as/ save link as.

untuk memainkan tiggal klik tombol play.

sumber: fanpage FB Radio Rodja

Penyebab Rusaknya Amal

Penyebab Rusaknya Amal

Syaikh Salim bin ‘Ied al Hilali

 

Hendaklah seorang muslim membentengi dirinya dengan cara musyaratah (persiapan yang matang), muraqabah (merasa diawasi oleh Allah), muhasabah (mengevaluasi kesalahan), mu’aqabah (memberikan sanksi terhadap kesalahan), mujahadah (sungguh-sungguh) dan mu’atabah (menegur kesalahan diri)

Ibnul Qayyim mengatakan : “ Setiap amalan itu pasti mempunyai permulaan dan tujuan akhir. Suatu amalan tidak akan menjadi ketaatan sampai didasarkan atas keimanan. Maka keimanan adalah pembangkitnya, bukan adat, bukan hawa nafsu, bukan pula karena mencari pujian dan kedudukan dan sebagainya. Tapi, permulaannya harus berasal dari iman dan tujuan akhirnya adalah pahala Allah ta’ala serta mengharapkan keridhaan-Nya, dan itulah al-ihtisab (mengharap pahala).”

“ Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka. Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun). Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (Al Mukminuun : 57-60)

Ya Allah, inilah hati kami di hadapan-Mu. Amalan kami tak pernah tersembunyi dari-Mu. Tetapkanlah hati kami di atas jalan-Mu yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau berikan nikmat kepada mereka, yaitu para Nabi, para shiddiq, para syahid dan orang-orang yang shalih dan merekalah sebaik-baik teman Read the rest of this entry

%d blogger menyukai ini: