Penyebab Rusaknya Amal

Penyebab Rusaknya Amal

Syaikh Salim bin ‘Ied al Hilali

 

Hendaklah seorang muslim membentengi dirinya dengan cara musyaratah (persiapan yang matang), muraqabah (merasa diawasi oleh Allah), muhasabah (mengevaluasi kesalahan), mu’aqabah (memberikan sanksi terhadap kesalahan), mujahadah (sungguh-sungguh) dan mu’atabah (menegur kesalahan diri)

Ibnul Qayyim mengatakan : “ Setiap amalan itu pasti mempunyai permulaan dan tujuan akhir. Suatu amalan tidak akan menjadi ketaatan sampai didasarkan atas keimanan. Maka keimanan adalah pembangkitnya, bukan adat, bukan hawa nafsu, bukan pula karena mencari pujian dan kedudukan dan sebagainya. Tapi, permulaannya harus berasal dari iman dan tujuan akhirnya adalah pahala Allah ta’ala serta mengharapkan keridhaan-Nya, dan itulah al-ihtisab (mengharap pahala).”

“ Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka. Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun). Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (Al Mukminuun : 57-60)

Ya Allah, inilah hati kami di hadapan-Mu. Amalan kami tak pernah tersembunyi dari-Mu. Tetapkanlah hati kami di atas jalan-Mu yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau berikan nikmat kepada mereka, yaitu para Nabi, para shiddiq, para syahid dan orang-orang yang shalih dan merekalah sebaik-baik teman

Berikut ini adalah beberapa hal yang menyebabkan rusaknya amal kita, berdasarkan Al Qur’an dan As-Sunnah :

1. Kufur, Syirik, Murtad dan Nifaq

“… Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu Dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al Baqarah : 217)

”Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. mereka tidak diberi Balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Al A’raaf : 147)

“Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat Termasuk orang-orang merugi.” (Al Maidah : 5)

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka Balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Hud : 15-16)

2. Riya’

Ketahuilah wahai Muslim, wahai hamba Allah, kata riya’ berasal dari kata ar Ru’yah (melihat). Orang yang riya’ memperlihatkan amalnya kepada manusia.

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Al Baqarah : 263-264)

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan pada kalian adalah syirik kecil yaitu riya’. Allah akan berfirman pada hari Kiamat setelah membalas amalan manusia : Pergilah kepada orang-orang yang dulu kalian (berbuat) riya’ kepadanya di dunia dan lihatlah apakah kalian mendapatkan balasannya di sisi mereka.” (HR Ahmad)

3. Mengungkit-Ungkit Kebaikan Disertai Menyakiti Hati Orang Yang Diberi Kebaikan.

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al Baqarah : 262)

“Tiga golongan yang Allah tidak menerima amal ibadahnya, yang wajib dan yang sunnah : Anak yang durhaka kepada orang tuanya, Orang yang mengungkit-ungkit pemberiannya, dan orang yang mendustakan takdir.” (HR Ath Thabrani, hasan)

“Tiga golongan yang tidak akan Allah ajak bicara pada hari Kiamat, tidak pula Allah melihat kepada mereka dan juga tidak mensucikan mereka, serta bagi mereka azab yang pedih : Musbil (orang yang memakai kain di bawah mata kaki), orang yang mengungkit-ungkit kebaikannya dan orang yang menjual dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR Muslim)

“Tiga golongan yang tidak akan masuk surga : Anak yang durhaka kepada orang tuanya, orang yang terus meminum khamr dan orang yang mengungkit-ungkit pemberiannya” (HR Ahmad)

Siapa mengungkit-ungkit kebaikannya, maka akan hilang rasa syukurnya. Dan siapa bangga dengan amalannya, maka akan sirna pahalanya.

4. Mendustakan Takdir

“Seandainya Allah mengadzab penduduk langit dan bumi, niscaya hal itu bukanlah karena kezhaliman-Nya. Seandainya Allah merahmati mereka, niscaya hal itu karena rahmat-Nya lebih baik bagi mereka daripada amalan yang mereka lakukan. Dan seandainya engkau menginfakkan emas sebesar gunung Uhud di jalan Allah, Allah tidak akan menerimanya sampai engkau beriman kepada takdir, dan meyakini bahwa sesuatu yang menimpamu tidak akan meleset darimu, dan sesuatu yang tidak menimpamu tidak akan mengenaimu. Jika engkau mati tanpa meyakini hal tersebut, engkau pasti masuk Neraka.” (HR Abu Dawud)

5. Meninggalkan Shalat Ashar

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa(Ashar). Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’. “ (Al Baqarah : 238)

“Maka kecelakaanlah bagi orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya” (Al Maa’uun : 4-5)

“Orang yang meninggalkan shalat Ashar seakan-akan ia kehilangan keluarga dan hartanya.” (HR Bukhari)

“Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka amalannya akan terhapus.” (HR Bukhari)

6. Memvonis Dosa dengan bersumpah atas nama Allah

Dari Jundub, bahwa Rasulullah pernah mengisahkan seorang laki-laki yang berkata : “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Maka Allah berfirman : “Siapakah yang lancang bersumpah atas Nama-Ku, bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan? Sungguh, Aku telah mengampuni si fulan dan menghapus amalanmu.” (HR Muslim)

Ketahuilah bahwa membuat manusia berputus asa dari rahmat Allah akan menyebabkan bertambahnya kemaksiatan orang itu. Karena ia beranggapan bahwa pintu rahmat Allah telah tertutup untuknya, sehingga bertambahlah kemaksiatan dan penyelewengan untuk memuaskan nafsunya sebelum dijelang oleh ajal. Kalau begitu, bukanlah pantas bila pahala orang yang menyebabkan tertutupnya pintu kebaikan dan terbukanya pintu keburukan, Allah batalkan, sebagai balasan yang setimpal atas perbuatannya?

Ya Allah jadikanlah kami sebagai kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup segala keburukan.

7. Melanggar Larangan-Larangan Allah Ketika Sedang Sendiri

“Sungguh, aku tahu (bahwa) beberapa kaum dari ummatku ada yang datang pada hari Kiamat dengan kebaikan sebesar gunung Tihamah, lantas Allah menjadikannya bagaikan debu yang beterbangan.” Tsauban berkata : “Wahai Rasulullah, sebutkanlah sifat-sifat mereka kepada kami, agar kami tidak masuk dalam golongan mereka, sedangkan kami tidak menyadarinya.” Beliau bersabda : “Ketahuilah, mereka adalah saudara kalian, dan kulit mereka juga sama seperti kalian. Mereka menjadikan sebagian malam untuk beribadah sebagaimana yang kalian lakukan. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang apabila sedang bersendiri, mereka melanggar larangan-larangan Allah.” (HR Ibnu Majah)

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang bertakwa kepadamu di dalam kesendirian maupun keramaian, yang selalu mengagungkan syi’ar-syi’ar Mu dan juga menjauhi apa yang Engkau Haramkan, baik dalam keadaan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Serta jauhkanlah kami dari dosa dan perbuatan-perbuatan keji, yang terlihat maupun tersembunyi.

8. Durhaka Kepada Orang Tua

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Luqman : 14)

Simak kepiluan hati seseorang ayah atas kedurhakaan anaknya dalam syair berikut :

Di waktu kecil aku memberimu makan

Dan menanggung hidupmu ketika remaja

Engkau makan dan minum berkat usahaku

Ketika engkau sakit di malam hari

Aku selalu terjaga karena tak dapat tidur

Seakan-akan akulah yang ditimpa

Dan air mataku pun berlinang

Jiwaku mengkhawatirkan kematianmu

Walaupun ia tahu ajal telah ditentukan

Tatkala engkau menginjak dewasa

Dan menjadi seperti yang kuimpikan

Kebaikanku kau balas dengan air tuba

Seakan-akan engkaulah yang memberiku kenikmatan

Kalaulah tidak kau penuhi hak orang tuamu

Perlakukanlah ia seperti perlakuan seorang tetangga kepada tetangganya

Kau perlakukan aku seperti tetangga

Dan kau kikir terhadap hartamu

(HR Ath Thabrani dalam Mu’jam ash-Shaghiir)

9. Wanita Yang Durhaka Kepada Suaminya

“Dua golongan yang shalatnya tidak sampai melewati kepalanya (tidak diterima Allah); budak yang kabur dari tuannya sampai ia kembali, dan wanita yang durhaka kepada suaminya sampai ia kembali (taat).” (HR Al Hakim)

10. Tidak Menyapa Saudara Sesama Muslim Tanpa Alasan Syar’i

“Pintu-pintu surga dibuka setiap hari senin dan kamis, maka diampunilah setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, kecuali seseorang yang bertengkar dengan saudaranya. Dikatakan (kepada Malaikat) : Tunggulah sampai keduanya berdamai, tunggulah sampai keduanya berdamai, tunggulah sampai keduanya berdamai.” (HR Muslim)

 

Pesan Penulis

Mudah-mudahan Allah memasukkan kita ke dalam surga dan memberikan tambahan kebaikan. Saudaraku se-Islam, itulah beberapa hal yang dapat membatalkan pahala amalan. Bahayanya untuk agamamu sudah sangat jelas sekali.

Jauhi dan waspadailah ia agar hatimu senantiasa menyukai hal-hal yang bermanfaat bagimu di dunia dan akhirat. Sehingga ia menjadi hati yang mencintai petunjuk dan membenci kezhaliman, dan kembali kepada fitrah yang telah Allah ciptakan untuknya.

Hidupkanlah ia dengan keimanan, Al Qur’an dan As-Sunnah yang dapat mensucikannya, memberinya kekuatan, ketegaran, semangat dan memperkokoh kerajaannya. Karena setiap hati membutuhkan pembinaan agar ia dapat tumbuh, semakin suci dan bertambah baik sampai menjadi hati sempurna dan benar-benar shalih.

“Ya Allah yang membolak-balikkan hati, (tetap) kuatkanlah hati kami di atas agamaMu, dan jangan Engkau serahkan (urusan kami) kepada diri kami walau hanya sekejap mata pun.”

 

diambil dari notes akh Fikri Aulia

About Mahdiy

Seorang penuntut ilmu kecil-kecilan.. ^^

Posted on Maret 13, 2011, in Keislaman and tagged . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. apakah dengan meninggalkan shalat ashar 1x = amalan-amalan yang dulu juga ikut rusak…? atau hanya hari itu saja??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: