Allah di Langit, Tapi Ilmunya Meliputi Segala Sesuatu

Dimana Allah?

Pertanyaan “Dimana Allah?” memang merupakan pertanyaan klasik, namun sangat mendasar. Bagaimana mungkin ummat Islam yang sumber hukumnya sama yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahiihah masih saja berbeda jawaban ketika ditanya “dimana Allah?”? tentulah karena pemahaman mereka yang keliru, yang lebih memilih menggunakan logika daripada atsar/perkataan dan pemahaman para salaful ummah. Jika kita menilik kembali pertanyaan ini, tentulah fitrah seorang hamba akan mengatakan bahwa Tuhannya ada di atas/di langit. Mereka yang menolak bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya terlalu banyak menta’wil(penginterpretasian bebas) keterangan yang amat jelas baik dalam alQur’an maupun hadits. diantaranya menta’wil kata Istawa(bersemayam) dengan arti istawla(menguasai) pada firman Allah,

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy.” (QS. Al-A’raaf:54)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menetapkan sifat-sifat Allah Ta’ala, tanpa tahrif(mengubah), ta’thil(meniadakan), tamtsil/tasybih(menyerupakan), tafwidh(menyerahkan begitu saja),dan takyif(menanyakan bagaimana).

Dengan tidak menetapkan sifat Allah yang berada di atas arsy-Nya, keyakinan orang yang mengatakan hal tersebut tidak lepas dari 2 hal, yaitu; mengatakan Allah ada dimana-mana, atau mengatakan Allah tidak ada dimanapun. Adapun dalam artikel ini yang akan sedikit dikupas adalah keyakinan yang pertama, yaitu mengatakan bahwa Allah ada dimana-mana, atau dengan bahasa yang ‘lebih halus’, Dzat Allah meliputi segala sesuatu,  dan paham sesat inilah yang banyak digandrungi kaum muslimin.

Diantara dalih yang mereka bawakan adalah pada doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ

Ya Allah, Engkaulah Al-Awwal, maka tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu; Engkaulah Al-Aakhir, maka tidak ada sesuatu pun sesudah-Mu; Engkaulah Azh-Zhahir, maka tidak ada sesuatu pun di atas-Mu, dan Engkaulah Al-Bathin, maka tidak ada sesuatu pun di bawah-Mu.” [Shahih Muslim IV/2084]

Mereka mengatakan bahwa hadits ini tegas menyatakan bahwa Dzat Allah meliputi segala sesuatu. Maka, kita katakan bahwa terjemahan bagian terakhir dari hadits tersebut(pada kalimat فلَيس دونك شيء) adalah Salah. Dalam kitab Bayan Talbisul Jahmiyyah jilid 4, Ibnu Taimiyyah menjelaskan hadits tersebut secara lebih detail. Intinya ialah bahwa nama Azh Zhahir (isim fa’il dari kata Zhuhur) maknanya adalah ‘tinggi’. Karenanya, Allah mensifati tembok besi yang dibangun oleh Dzulqarnain ‘alaihissalaam dengan ungkapan (فما اسطاعوا أن يظهروه) “Mereka (Ya’juj dan Ma’juj) takkan dapat mendaki/berada diatasnya”, yang berarti bahwa tembok itu sangatlah tinggi.

Allah menamakan dirinya dengan nama azh-Zhahir tersebut sebab Dia lah yang paling tinggi, karenanya dikatakan: falaisa fauqoka syai’un, yang artinya tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Berhubung sesuatu yang tinggi biasanya nampak jelas, padahal Allah bersifat ghaib, maka untuk menepis asumsi tersebut Rasulullah mengatakan bahwa Allah memiliki nama lainnya, yaitu Al-Baathin, yang mengandung pengertian ‘tersembunyi’ dan ‘dekat’. Karenanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam merangkainya dengan kalimat: “فلَيس دونك شيء maka tidak ada sesuatu yang lebih dekat dari-Mu.”

Menurut Syaikhul Islam, kata ‘duuna’ di sini diambil dari kata ‘ad dunuww yang artinya dekat, bukan dari kata ‘ad-duun‘ yang artinya ‘rendah’ atau ‘di bawah’. (Jadi terjemah yang tepat untuk doa nabi di atas adalah dan “Engkaulah Al-Bathin, maka tidak ada sesuatu yang lebih dekat dari-Mu.“)

Beliau lantas mencontohkan dengan firman Allah dlm Surah Al Kahfi ayat 90

حَتَّى إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلَى قَوْمٍ لَمْ نَجْعَلْ لَهُمْ مِنْ دُونِهَا سِتْرًا

Hingga apabila dia(Dzulqarnain) telah sampai ke tempat terbit matahari dia mendapati matahari itu menyinari segolongan kaum yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu (penghalang) yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu.” (QS. Al-Kahfi:90)

Artinya, jika mereka berada di bawah naungan, berarti naungan tersebut ‘duunasy syamsi’, yang artinya ia lebih dekat kepada mereka dari pada matahari, dan matahari menjadi lebih batin dari mereka dibanding naungan tersebut, karena matahari berada di belakangnya.

Intinya, hadits tersebut menunjukkan bahwa Allah maha tinggi namun juga maha dekat sehingga tak ada sesuatu pun yang bisa menghalangi antara Dia dengan hamba-Nya. Oleh karena itu, dalam hadits shahih lainnya, ketika Rasulullah mendapati ada sebagian sahabat yang mengeraskan suara dalam takbir dan tahlil ketika di perjalanan, beliau menegur mereka seraya berkata:

أيها الناس، اربعوا على أنفسكم، إنكم لا تدعون أصم ولا غائبا، إن الذي تدعون سميعا قريبا، وهو معكم. أخرجه البخاري، وفي رواية أبي داود بلفظ:إن الذي تدعونه بينكم وبين أعناق ركابكم

Wahai saudara-saudara, kasihanilah diri kalian, kalian tidaklah menyeru sesuatu yang tuli maupun tidak ada. Yang kalian seru adalah Dzat yang Maha Mendengar dan Maha Dekat, dan Dia bersama kalian.” [HR. Bukhari].

Dalam riwayat Abu Dawud lafazhnya sebagai berikut: “Yang kalian seru ada di antara kalian dan leher hewan tunggangan kalian”.

Tentunya hadits ini tidak berarti bahwa Allah ada di bumi. Namun makna hadits ini adalah ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu, sedangkan Dia berada di atas Arsy-Nya.

Ilmu Allah meliputi segala sesuatu, secara global maupun terperinci. Kebijaksanaan Allah berlaku di dunia maupun di akhirat. Apabila Allah menyempurnakan sesuatu, maka sesuatu itu tidak mengandung kerusakan. Allah telah menciptakan manusia dan Dia Maha Suci, Maha Bijaksana, lagi Maha Mengetahui. [Al-Ajwibah Al-Ushuliyah‌, hal.42]

Satu lagi ‘senjata’ yang ampuh untuk menepis pemahaman bahwa Allah berada dimana-mana ialah perkataan al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dalam Kitab Ar-Radd ‘alaal Jahmiyyah waz Zanaadiqah;

Apabila engkau ingin mengetahui kedustaan kaum Jahmiyyah tatkala mengatakan bahwa Allah dimana-mana dan tidak berada di satu tempat, maka katakanlah padanya: “Bukankah dahulu hanya Allah saja dan tidak ada sesuatu lainnya?” Dia akan menjawab: “Benar” Lalu katakanlah padanya lagi: “Tatkala Allah menciptakan sesuatu, apakah Dia menciptakannya pada diri-Nya ataukah diluar dari diri-Nya?” Jawaban dia tidak akan keluar dari tiga hal:

1. Apabila dia menyangka bahwa Allah menciptakan makhluk di dalam Dzat Allah, maka ini merupakan kekufuran karena dia telah menganggap bahwa Jin, manusia, syetan dan iblis pada diri Allah!

2. Apabila dia mengatakan: Allah menciptakan  makhluk di luar Dzat Allah, kemudian Allah masuk ke dalam ciptaannya. Maka ini juga kekufuran karena dia menganggap bahwa Allah berada di setiap tempat yang menjijikkan dan kotor!

3. Apabila dia mengatakan: Allah menciptakan mereka di luar dari Dzat-Nya kemudian Allah tidak masuk pada mereka, maka ia(Jahmiy) telah meninggalkan seluruh Aqidahnya dan ini adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Demikian penjelasan singkat mengenai aqidah Jahmiyyah yang mengatakan bahwa Allah berada dimana-mana. Terkhusus penjelasan pada hadits “Engkaulah Azh-Zhahir.. Engkaulah al-Bathin..” Semoga Allah mempersatukan kaum muslimin di atas Aqidah yang shahiihah. Wallahua’lam.

Isi artikel diperoleh dari jawaban ustadz Sufyan Baswedan,Lc terhadap pertanyaan ana di blog beliau (http://basweidan.wordpress.com/) dengan tambahan dan perubahan redaksi.

About Mahdiy

Seorang penuntut ilmu kecil-kecilan.. ^^

Posted on Maret 19, 2011, in manhaj and tagged , , . Bookmark the permalink. 13 Komentar.

  1. Lalu apakah ayat-ayat Al quran ini mengada-ada?:
    Al Baqarah 186: Jawablah AKU DEKAT.
    Al Qaaf 16 : Allah LEBIH DEKAT dari URAT LEHER
    Al Baqarah 115: KEMANA SAJA menghadap, disana ada wajah Allah
    Al Baqarah 19 : Allah MELIPUTI orang-orang kafir.
    Al Israa’ 60: Tuhanmu MELIPUTI segala manusia
    Al Fushilat 54: Dia Maha MELIPUTI segala sesuatu
    An Nissa 126: Allah Maha MELIPUTI segala sesuatu
    Al A’raf 54 / Ar Ra’d 2: Dia bersemayam di atas ‘Arsy…
    Asy Syura 11: Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia…

    KAlau hanya satu saja yang betul menurut anda Allah anda, yaitu yang bersemayam di arsy, maka Allah saya ternyata berbeda dengan Anda dan salafus shaleh. masak sih..?

    Salam

    • Sebenarnya, saya malas untuk menanggapi komentar anda, karena saya yakin anda belum membaca (dengan seksama) artikel di atas.
      Ayat2 tsbb tidak lah mengada2, akan tetapi tafsiran anda yg mengada ada. setidaknya saya akan menjawab secara singkat,
      -Untuk Al Baqarah 186, itu dalam hal berdoa, meskipun Allah berada di atas Arsy yg berada di atas langit ketujuh, namun Allah mendengar seluruh permohonan hambanya, seakan Ia sangat dekat. Artinya Allah dekat dalam kejauhanNya.
      -untuk Al Qaaf 16, para Mufassirin mengatakan bahwa nahnu /kami dalam ayat tersebut ialah para Malaikat.
      -untuk Al Baqarah 19, Al Israa’ 60, Al Fushilat 54, An Nissa 12. Allah meliputi seluruh alam semesta, tapi bukan dzat-Nya, melainkan ilmuNya.
      -Al A’raf 54 / Ar Ra’d 2, Ayat ini amat tegas dan jelas, bahwaAllah bersemayam di atas ‘ArsyNya.
      -“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia“. Ya, meskipun Allah bersemayam/istiwa’, namun tentunya berbeda antara istiwa’nya Allah dengan makhluqnya. Allah beristiwa sesuai dengan keagunganNya.
      Setidaknya, bacalah tafsir dari para Ulama yang diakui, semisal tafsir Ibnu Katsir.
      Salafus shalaeh yg mana yg berpendapat bahwa Allah tidak bersemayam di ‘Arsy?
      silakan anda baca http://abiubaidah.com/tahukah-anda-di-mana-allah.html/

  2. Bismillah. Saya meyakini Allah ada di atas. Bagaimana menjawab hadits

    “Sesungguhnya jika salah seorang kalian berdiri dlm shalat, maka ia sesungguhnya
    berbincang-bincang dg Tuhannya, atau Tuhannya ada diantara dirinya dan kiblatnya. Olh karena itu, janganlah ia meludah ke arah kiblatnya, akan tetapi meludahlah ke arah kiri atau di bawah telapak kakinya.” (HR. al-Bukhari).

    Mohon penjelasan

  3. Berikut adalah teks lengkap haditsnya:

    Dari Anas bin Malik -radhiallahu anhu- dia berkata:
    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى نُخَامَةً فِي الْقِبْلَةِ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِ حَتَّى رُئِيَ فِي وَجْهِهِ فَقَامَ فَحَكَّهُ بِيَدِهِ فَقَالَ إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ أَوْ إِنَّ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ فَلَا يَبْزُقَنَّ أَحَدُكُمْ قِبَلَ قِبْلَتِهِ وَلَكِنْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمَيْهِ ثُمَّ أَخَذَ طَرَفَ رِدَائِهِ فَبَصَقَ فِيهِ ثُمَّ رَدَّ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَقَالَ أَوْ يَفْعَلُ هَكَذَا
    “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat ada dahak di dinding kiblat, maka beliau merasa jengkel hingga nampak tersirat pada wajahnya. Kemudian beliau menggosoknya dengan tangannya seraya bersabda, “Jika seseorang dari kalian berdiri shalat maka sesungguhnya dia sedang berhadapan dengan Rabbnya, atau sesungguhnya Rabbnya berada antara dia dan kiblat. Maka janganlah dia meludah ke arah kiblat, tetapi hendaknya dia membuang dahaknya ke arah kirinya atau di bawah kedua kakinya.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memegang tepi kainnya dan meludah di dalamnya, setelah itu beliau mengosokkannya kepada bagian kainnya yang lain, lalu beliau bersabda, “Atau hendaknya dia melakukan seperti ini.” (HR. Al-Bukhari no. 507 dan Muslim no. 550)

    nah, apakah maksud dari lafazh “(إِنَّ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ )sesungguhnya Rabbnya berada antara dia dan kiblat” dari hadits di atas? berikut jawaban yang disampaikan oleh Ust Sufyan Basweidan, MA. di blog beliau(http://basweidan.wordpress.com):

    Terjemahan hadits seperti itu memang musykil, tapi yg jelas Dzat Allah tidak berada di sana namun di atas ‘Arsy-Nya. Agaknya si penerjemah kurang ahli dalam memahami gaya bahasa Arab. istilah bainahu wa baina kadza, itu menunjukkan kedekatan antara dua hal… artinya pengawasan Allah atau ilmu Allah itu berada lebih dekat antara dia dengan kiblatnya. Seperti ketika seorang arab berkata kepada Anda: Haadza baini wa bainak, ini menyiratkan kedekatan dia dengan kita dan sama sekali tidak harus berarti dia berada di hadapan kita. bahkan belum lama ini ada seorang saudi yg menelpon ana lalu menyampaikan suatu pesan rahasia -padahal ana belum pernah ketemu orangnya- dan mengatakan: “Haadza baini wa bainak”, memang letterleg-nya: ini antara aku dengan kamu, tapi jelas bukan ini maksudnya dan konteksnya tidak mengarah ke sana… namun menyiratkan bhw apa yg kusampaikan ini rahasia di antara kita. Jadi, istilah bainahu wa bainal qiblah dlm hadits itu dhahirnya bukan dzat Allah berada di antara kita dengan kiblat, sebab ada dalil qoth’i yg menafikan pemahaman ini, yaitu ayat2 yg menetapkan bahwa Allah istiwa’ di atas Arsy. Tapi maksudnya -wallaahu a’lam- ialah bahwa ilmu dan pengawasan Allah sangat dekat dengan kita saat kita shalat. Lebih dekat daripada saat kita diluar shalat, makanya kita harus berlaku sopan dan beradab dengan tidak meludah ke arah kiblat karena kita sedang menghadap-Nya.
    Ini bukanlah penakwilan yg batil, sebab yg namanya ta’wil itu memalingkan pengertian suatu kalimat dari dhahir kepada yg tidak dhahir dengan alasan yg marjuh. Adapun bila suatu kalimat tadi dhahirnya memang tidak seperti yg kita fahami (apalagi kalau yg memahami adalah orang ajam, atau memahami lewat terjemahan yg kurang tepat), maka jelas ini bukan dhahir yg dimaksud oleh si pengucap. Dan bila ditafsirkan tidak sesuai dengan dhahir yg keliru tadi, maka itu bukanlah suatu penakwilan yg tercela.

  4. katanya orang melulu…

  5. cindailabiah@yahoo.com

    pak mahdiy yang terhormat, terima kasih telah menyampaikan suasana hati bapak, bahwa bapak malas menjawab pertanyaan saya yang ingin tahu jawaban bapak. karena saya memang tidak tahu tentang hubungan ayat-ayat itu. Dalam pertanyaan saya, saya juga tidak pernah menafsirkan ayat al qur’an tersebut, saya hanya menyadurnya sesuai dengan terjemahan yang ada.

    Alhamdulillah…, ternyata dalam banyak hal Allah kita berbeda sekali. Sekarang saya jadi semakin yakin dengan Allah saya… Bahwa Allah saya sangat sesuai dengan semua ayat diatas. Semuanya pas dan tidak ada keraguan saya tentang DIa.
    syukron

    • Assalamu’alaykum

      Maaf, kalo boleh saya tahu ..dimanakah Allah anda ?

      apakah di dekat anda ?
      Al Baqarah 186: Jawablah AKU DEKAT.

      apakah sangat sangat dekat sekali dengan anda ?
      Al Qaaf 16 : Allah LEBIH DEKAT dari URAT LEHER

      apakah dimana-mana keberadaanya ? di kamar, di dapur, di ruang tamu, dsb
      Al Baqarah 115: KEMANA SAJA menghadap, disana ada wajah Allah

      atau alam semesta berada di dalam lingkupan-Nya ?
      Al Baqarah 19 : Allah MELIPUTI orang-orang kafir.
      Al Israa’ 60: Tuhanmu MELIPUTI segala manusia
      Al Fushilat 54: Dia Maha MELIPUTI segala sesuatu
      An Nissa 126: Allah Maha MELIPUTI segala sesuatu

      syukron wa hadakallahu ..

  6. Alhamdulillah. Jazakallahu khairan. Penjelasannya hadits yg saya tanyakan sudah terjawab. Kesimpulan saya adalah bahwa nash2 tentang Allah di atas langit bersifat muhkamat. Karena dari mulai Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, para sahabat radliallahu ‘anhum, tabiin, tabiut tabiin dst imam2 ahlus sunnah semuanya memahami & meyakini Allah di atas langit di atas ‘arsy Nya.

    Hanya saja ada ayat & hadits mutasyabihat, spt Wa huwa ma’akum (QS Hadid : 4), Allah dekat (QS Al Baqarah : 186). Ini semua sdh ada tafsirnya. Seandainya mereka tampilkan isi ayat tsb keseluruhan, niscaya bantahannya ada di ayat tsb. Dan ayat2 ini tdklah membahas ttg keberadaan Allah.

    Ayat2 ttg keberadaan Allah adalah spt Arrahmaanu ‘alal ‘arsy istawa, A amintum man fis sama. Ayat mutasyabihat harus dikembalikan kepada ayat muhkamat.

  7. Assalamu’alaikum,
    lalu berhubungan dengan perkataan imam ahmad diatas, ….

    2. Apabila dia mengatakan: Allah menciptakan makhluk di luar Dzat Allah, kemudian Allah masuk ke dalam ciptaannya. Maka ini juga kekufuran karena dia menganggap bahwa Allah berada di setiap tempat yang menjijikkan dan kotor!

    nah kalau Alloh turun ke langit dunia di 1/3 malam apa ini bukan berarti Alloh masuk ke dalam ciptaan-Nya (langit dunia) ustadz?

  8. inilah juhalanya wahabi, jelas2 ayat mutasyabihat, dibilang muhkamat. Astaghfirullah

  9. yg punya postingan ini lebih berbahaya dari pada orang kafir

    al-Imam Abu Nashr al-
    Qusyairi mengatakan:

    “Ada beberapa orang merasa bahwa
    diri mereka sebagai orang yang
    paham dalam masalah ini,

    seandainya
    aku tidak megkhawatirkan akan
    rusaknya pemahaman orang-orang
    awam dan pemikiran mereka maka aku akan penuhi kitab ini dengan
    penjelasan panjang lebar sebagai
    bantahan terhadap orang-orang
    tersebut.

    Mereka itu mengatakan: ”Kita
    harus mengambil makna zhahih teks-
    teks mutasyabihat dan memberlakukannya sebagaimana apa
    adanya yang mengindikasikan bahwa
    Allah memiliki keserupaan atau
    bahwa Allah memiliki bentuk dan
    ukuran serta anggota badan”. Mereka
    biasanya berpegang kepada ayat QS. Ali ‘Imran: 7 bahwa yang mengetahui
    takwil itu hanya Allah saja, sementara
    kita tidak boleh mentakwil.

    Orang-
    orang semacam ini, demi Allah, lebih
    berbahaya dari pada orang-orang
    Yahudi, Nasrani, Majusi dan orang- orang penyembah berhala.

    Karena
    kesesatan dan kekufuran orang-
    orang Yahudi, Nasrani, Majusi dan
    para penyembah berhala jelas terlihat
    dengan kasat mata dan dapat
    dihindari oleh setiap orang Islam.

    Namun kesesatan dan kekufuran
    orang-orang tersebut di atas dapat
    tersamar bagi orang-orang Islam
    yang berpemahaman lemah hingga
    mereka ikut menjadi sesat seperti
    orang-orang tersebut.

    Mereka akan menjelaskan dan menanamkan
    keyakinan terhadap orang-orang
    yang akan disesatkannya bahwa
    Allah memiliki anggota badan,
    memiliki sifat-sifat tubuh, seperti naik,
    turun, bersandar, terlentang, bersemayam dan bertempat, pulang
    pergi dari satu arah ke arah yang lain.
    Orang yang ikut dengan mereka akan
    berkesimpulan bahwa Allah tidak
    ubahnya seperti benda-benda.

    Orang
    ini kemudian akan menjadi sesat tanpa ia sadari” (Ithaf as-Sadah al-
    Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ’Ulumiddin, j. 2,
    h. 108-109).

  10. Maulana…bertaubatlah sebelum ajal menjemputmu di karenakan aqidah mu yang sudah rusak yang tidak mengESAkan Allah….Ya Allah lindungilah hambaMu ini dari orang-orang yang aqidahnya sudah jauh tersesat seperti maulana yang sok pintar ini..Aamiin

  11. bacalah tafsir dari para Ulama yang diakui, semisal tafsir Ibnu Katsir.
    Salafus shalaeh yg mana yg berpendapat bahwa Allah tidak bersemayam di ‘Arsy?

    pertanyaan ini dari akhi mahdi kok belum ada yang jawab..??
    silahkan…!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: