Makan dan Minum Sambil Berdiri, Bolehkah?

Makan dan minum ialah perbuatan yang seringkali (atau bahkan selalu) kita lakukan. Apakah kita berilmu akan adab-adabnya? Masalah yang sering dijumpai ialah makan dan minum sambil berdiri. Ketika menjumpai kursi untuk duduk, maka hal ini tidak jadi masalah, karena hampir setiap  muslim tahu bahwa makan/minum sambil duduk itu lebih utama, dan kemudian kita duduk di kursi tsb untuk makan/minum. Namun ketika tidak dijumpai kursi/tempat duduk, atau sulit untuk mencarinya, terlebih lagi kita berada di dalam keramaian, sedang kita hendak makan/minum, apa yang sebaiknya kita lakukan? Mencari tempat duduk dahulu? atau makan/minum sambil berdiri? bolehkah? Langsung simak saja pembahasan berikut;

Hadits yang Membolehkan;

1. عن ابن عباس قال : شرب النبي صلى الله عليه وسلم قائماً من زمزم

Dari Ibnu ‘Abbas ia bekata : “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah minum air zamzam sambil berdiri” [HR. Bukhari no. 1637]

2. عن النَّزَّال قال : أتي علي رضي الله عنه على باب الرَّحبة بماء فشرب قائماً، فقال: إن ناساً يكره أحدهم أن يشرب وهو قائم، وإني رأيت النبي صلى الله عليه وسلم فعل كما رأيتموني فعلت

Dari An-Nazzaal ia berkata : ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu membawa air ke pintu masjid kemudian meminumnya sambil berdiri. Kemudian ia bekata : “Sebagian orang tidak suka minum sambil berdiri, padahal aku melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukannya sebagaimana engkau melihatku melakukannya barusan” [HR. Bukhari no. 5615-5616]

Hadits yang Melarang

1. عن أنس، عن النبي صلى الله عليه وسلم؛ أنه نهى أن يشرب الرجل قائما. قال قتادة: فقلنا: فالأكل؟ فقال: ذاك أشر أو أخبث

Dari Anas, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : Bahwasannya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri. Qatadah berkata : “Kami bertanya : ‘Bagaimana dengan makan (sambil berdiri) ?”. Beliau menjawab : “Hal itu lebih buruk dan menjijikkan” [HR. Muslim no. 2024, t-Tirmidzi no. 1879]

2. عن أبي هريرة يقول : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يشربن أحد منكم قائما. فمن نسي فليستقي

Dari Abu Hurairah ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Janganlah salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri. Barangsiapa yang lupa, hendaklah ia muntahkan” [HR. Muslim no. 2026 dan Al-Baihaqiy 7/282].

Pembahasan Ringkas:

Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bolehnya minum sambil berdiri karena Nabi shallallaahu ‘alaih wasallam melakukannya. bahkan disebutkan dalam Al Muwaththa’ bahwa Umar, Utsman dan Ali radhiyallaahu ‘anhum konon minum sambil berdiri, demikian pula Aisyah dan Sa’ad (bin Abi Waqqash) menganggap hal tersebut tidak mengapa.

Adapun hadits-hadits yang melarang, maka maksudnya bukan haram namun makruh. Hal ini disimpulkan dengan menjama’ (menggabungkan) hadits-hadits yang dhahirnya kontradiksi dalam masalah ini. Intinya, minum sambil berdiri hukumnya boleh, tapi lebih baik dilakukan sambil duduk. pendapat ini dinyatakan oleh Al Khattabi, Al Baghawi, Al Qadhi ‘Iyadh, Al Qurthubi, An Nawawi, Ibnu Hajar, dll. (lihat: Al Fajrus Saathi’ ‘alash Shahihil Jaami’ 8/22-23).

Adapun hadits riwayat Muslim dari Anas bin Malik yang mengatakan bahwa: “Barangsiapa lupa melakukannya, maka hendaklah ia memuntahkannya”, maka dalam sanadnya ada perawi bernama ‘Umar bin Hamzah yang didha’ifkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Ma’ien dan An Nasa’i, dan hadits ini mengandung lafazh yang munkar, yaitu perintah untuk memuntahkannya bagi yang lupa. Singkatnya, bagian awal hadits ini shahih, namun bagian akhirnya tidak demikian (yaitu perintah untuk memuntahkan bagi yg lupa). Hal ini dinyatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah hadits no 177, dan Silsilah Adh Dha’iefah hadits no 927.

Demikian pula halnya dengan makan sambil berdiri, Ibnu Hajar dalam Fathul Baari menukil dari Al Maaziri yang mengatakan bahwa tidak ada khilaf di kalangan ulama akan bolehnya makan sambil berdiri. Sedangkan yang lebih afdhal ialah makan sambil duduk.

Al-Lajnah Ad-Daaimah memberikan fatwa sebagai berikut:
الأصل أن يشرب الإنسان قاعداً ، وهو الأفضل ، وله أن يشرب قائماً ، وقد فعل النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الأمرين للدلالة على أن الأمر في ذلك واسع

“Pada asalnya, seseorang hendaknya duduk jika ia minum. Perbuatan ini afdlal (lebih utama). Namun, boleh juga jika ia minum sambil berdiri. Sungguh, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan dua perkara tersebut untuk menunjukkan bahwa kesemua perkara itu luas (boleh dilakukan kedua-duanya).” [Fataawa Al-Lajnah Ad-Daaimah, 22/133]

Wallaahu ta’ala a’lam.

Penjelasan ringkas diperoleh dari jawaban ustadz Sufyan Basweidan,Lc dengan sedikit tambahan (http://basweidan.wordpress.com/)

About Mahdiy

Seorang penuntut ilmu kecil-kecilan.. ^^

Posted on Maret 20, 2011, in fiqih and tagged , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Subhanallah isi blog antum keren bang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: