Ada Apa dengan Nisfu Sya'ban?

Apakah Nisfu Sya’ban itu?

Nisfu artinya separuh atau pertengahan, sedangkan Sya’ban ialah bulan ke-8 dari tahun Hijriah. Nisfu sya’ban berarti pertengahan bulan Sya’ban, yaitu tanggal 15 Sya’ban.

Adakah keutamaan tertentu di malam Nisfu Sya’ban?

Ada hadits yg umum yang menjelaskan keutamaan bulan Sya’ban, diantaranya;

Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah berpuasa dalam sebulan sebagaimana Beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam berpuasa pada bulan Sya’bân. Lalu ada yang berkata, ‘Aku tidak pernah melihat anda berpuasa sebagaimana anda berpuasa pada bulan Sya’bân.’ Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam menjawab, ‘Banyak orang melalaikannya antara Rajab dan Ramadhân. Padahal pada bulan itu, amalan-amalan makhluk diangkat kehadirat Rabb, maka saya ingin amalan saya diangkat saat saya sedang puasa.[HR Ahmad, 5/201 dan Nasâ’i, 4/102]

Dan memang ada satu dalil khusus -yang sah- tentang keutamaan malam nisfu Sya’ban;

Dari Mu’adz bin Jabal, dia berkata, Rasulullah“Allah mengamati para makhluk-Nya di malam pertengahan bulan Sya’ban dan Dia mengampuni semua makhluk-Nya kecuali yang musyrik dan orang yang memusuhi orang lain (tanpa alasan benar).” [HR Ibnu Hibban 12/5665, Al-Baihaqi, Silsilah Ash-Shahihah 1114]

sedangkan mengatakan malam nisfu sya’ban ialah malam ditutup dan digantinya catatan amal, dibukanya ratusan pintu surga, maka ini tidak ada dalil yg shahih/otentik yg mendasarinya.

Adakah amalan/ritual tertentu di malam Nisfu Sya’ban?

Tidak Ada. Berikut beberapa perkataan para Ulama mengenai amalan-amalan khusus pada nisfu Sya’ban;

Imam Asy Syaukani menulis dalam bukunya, Al Fawaidul Majmuah, ” Hadits ini(hadits khusus tentang shalat nishfu Sya’ban) adalah maudhu’, pada lafadz-lafadznya menerangkan tentang pahala yang akan diterima oleh pelakunya adalah tidak diragukan kelemahannya bagi orang berakal, sedangkan sanadnya majhul (tidak dikenal), hadits ini diriwayatkan dari kedua dan ketiga jalur sanad, kesemuanya maudhu dan perawi-perawinya tidak diketahui.

Imam Abubakar Ath-Thurthusyiy berkata dalam bukunya, Al-Hawadits wal Bida, “Diriwayatkan oelh Wadhdhah dari Zaid bin Aslam berkata: Kami belum pernah melihat seorang pun dari sesepuh dan ahli fiqih kami yang menghadiri perayaan malam Nisfu Sya’ban, tidak mengindahkan hadits Makhul (dhaif) dan tidak pula memandang adanya keutamaan pada malam tersebut terhadap malam-malam lainnya.

Dalam kitab Al Majmu’, Imam Nawawi berkata: Shalat yang sering kita kenal dengan shalat Raghaib ada (berjumlah) dua belas raka’at dikerjakan antara Maghrib dan Isya’ pada malam Jum’at pertama bulan Rajab; dan shalat seratus rakaat pada malam Nisfu Sya’ban. Dua shalat itu adalah bid’ah dan mungkar. Tak boleh seseorang terpedaya oleh kedua hadits itu hanya karena telah disebutkan di dalam buku Quutul Quluub dan Ihya’ Ulumuddin. Sebab pada dasarnya hadits-hadits tersebut batil (tidak boleh diamalkan). Kita tidak boleh cepat mempercayai orang-orang yang menyamarkan hukum bagi kedua hadits, yaitu dari kalangan Aimmah yang kemudian mengarang lembaran-lembaran untuk membolehkan pengamalan kedua hadits, dengan demikian berarti salah kaprah.

Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyah ketika ditanya tentang shalat malam nishfu Sya’ban, maka beliau menjawab, ”Apabila seseorang shalat sendirian atau berjamaah di masjid sebagaimana yang biasa diamalkan sebagian salaf maka itu lebih baik. Sedangkan shalat khusus berjamaah seperti halnya shalat seratus rakaat dengan membaca surah Al-Ikhlas seribu kali adalah bid’ah dan tak pernah dianjurkan seorangpun dari para imam.” (Majmu’ Al-Fatawa, juz 23, hal. 131).

Lalu, apa yang semestinya dilakukan pada hari/malam nisfu Sya’ban?

Malam nisfu Sya’ban tidaklah berbeda dengan malam-malam lainnya.  Namun, jika berpedoman pada Hadits Mu’adz mengenai keutamaan nisfu sya’ban (meskipun ada yang menanggapnya dha’if) maka hendaklah menggiatkan ibadah pada malam itu, dengan shalat malam, banyak istighfar, berdoa, membaca Al-Qur`an dan lain sebagainya. Sedangkan puasa di siang harinya juga sunnah, bukan berdasarkan hadits yang lemah, melainkan hadits sunnahnya puasa tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan, serta hadits-hadits yang menganjurkan banyak puasa di bulan Sya’ban.

Namun sekali lagi yang harus diingat ialah; Menentukan sesuatu, baik tempat, waktu, maupun keadaan tertentu memiliki keutamaan membutuhkan dalil yang sah dan otentik. Tidak bisa hanya berasal dari perkataan ustadz, kiayi, habib, dll. Jika ada yang menganjurkan untuk melakukan amalan-amalan, atau menyebutkan keutamaan tertentu pada malam Nisfu Sya’ban, maka kita katakan,”Mana Dalilnya?

Wallahua’lam..

Semoga bermanfaat :)

banyak diambil dari:

http://almanhaj.or.id/content/788/slash/0

http://alponti.multiply.com/journal/item/33

About Mahdiy

Seorang penuntut ilmu kecil-kecilan.. ^^

Posted on Juli 16, 2011, in fiqih and tagged , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Utk temen2 pengunjung blog ini͵ jika ada yg mndapat sms atau email berupa hadits mengenai nisfu sya‘ban͵ tolong dipost di sini ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: