Menulis Lafazh Shalawat dalam Tulisan Termasuk Bid'ah?

Pertanyaan:

Assalaamu’alaykum.

Hukum asal ibadah adalah terlarang sebagaimana yang telah ma’ruf. Oleh karena itu kita membid’ahkan Yasinan, Tahlilan, dll karena salah satu sebabnya adalah ini termasuk bid’ah idhafiyyah. Begitu juga dengan maulid Nabi yang kita katakan sebagai bid’ah Haqiqiyyah walaupun para penggemar maulid berdalil dengan dalil2 umum semisal kecintaan kepada Rasulullah, dll maka diadakanlah maulid.

Nah, Lalu bagaimana dengan kita yang dicap Wahabi yang terus2an menulis lafazh shalawat seperti “shallallahu’alaihiwasallam” setelah penulisan nama Rasulullah dalam karya tulis kita misalnya. Apakah ini bid’ah? Apakah pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat mengenai hal ini? Apakah ada dalil khusus dalam hal ini? Bukankah yang diperintahkan adalah mengucapkan shalawat -bukan menulis- ketika nama Rasulullah disebut -misalnya-? Bukankah Rasulullah ketika mengirim surat ke Heraklius beliau tidak mencantumkan lafazh shalawat di belakang nama beliau?

Mohon dijawab. Ana sangat membutuhkan jawaban atas hal ini. Perlu anda ketahui -kalo anda kebetulan belum tahu- bahwa kalangan Mukhalif ‘berargumentasi’ dengan hal ini untuk melegalkan bid’ah mereka. Mereka berkata -yg intinya- bahwa Wahabi pun melakukan bid’ah semisal penulisan lafazh shalawat setelah nama Rasulullah dalam karya tulis mereka.

Jawab:

Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabarakaatuh.

Menganggap penulisan shalawat setelah menulis nama Rasulullah sebagai bid’ah adalah sesuatu yg aneh bin ajaib. Hukum tulisan adalah seperti ucapan, bukankah kita juga memperlakukan tulisan para ulama kita sebagai perkataan mereka? Bukankah para mukhalif juga mengatakan: “Imam Nawawi mengatakan bla.. bla.. bla…” atau “Imam Syafi’i… atau Imam yg lainnya…” Padahal saya berani jamin 1000 % bahwa mereka ga pernah mendengar ucapan tersebut dari mulut Imam-imam tadi… atau bahkan para Imam tadi mungkin tidak pernah mengatakannya… namun itu semua dari tulisan mereka. Jadi, apa yg ditulis oleh seseorang merupakan perkataannya. Bukankah seseorang dikatakan berakidah sunni, salafi, mu’tazili, syi’i, dst juga dari apa yg dia tulis? Mengapa para ulama menghukumi akidah seseorang berdasarkan tulisannya, kalaulah tulisan tidak memiliki arti sebagai perkataan dan ungkapan dari isi hatinya? Jadi, orang yang menulis nama Rasulullah sama dengan mengucapkannya. Ini yang pertama.

Kedua, Mengapa Rasulullah tidak menuliskan shalawat ketika menulis namanya dalam surat yg dikirimkan kepada Heraklius? Maka jawabannya saya kembalikan kepada mereka: “Apakah Rasulullah juga bershalawat atas dirinya tiap kali menyebut dirinya?” Kalau jawabannya: TIDAK, maka apakah berarti kita harus menyikapi beliau sebagaimana beliau menyikapi dirinya? Padahal beliau mengatakan: Orang yg bakhil ialah yang mendengar namaku disebut namun tidak bershalawat kepadaku. Dan tulisan dalam hal ini hukumnya seperti perkataan.

Ketiga, ini tidak bisa disebut bid’ah karena yang namanya bid’ah harus memiliki dua kriteria: pertama, adanya alasan untuk melakukannya di zaman Nabi. Dan kedua, tidak adanya penghalang untuk melakukan hal tsb.

Artinya, jika alasan untuk melakukannya memang belum dijumpai di zaman beliau, maka kita tidak bisa membid’ahkannya bila kemudian terjadi setelah munculnya alasan untuk itu. Contohnya: Pembukuan Al Qur’an, Hadits, perumusan Ilmu Nahwu, Sharaf, tajwid, dll. Semua ini memang tidak terjadi di zaman Nabi karena memang belum dibutuhkan. Atau karena adanya penghalang, seperti mengapa Al Qur’an tidak langsung dibukukan di zaman Rasulullah? Apakah alat tulis-menulis belum ada di zaman beliau? Jawabnya: Tidak, bukan karena itu, tapi karena ada suatu penghalang, yaitu Al Qur’an belum sempurna turunnya, dan masih sering terjadi naskh, atau adanya surat2 yang ayat-ayatnya belum seluruhnya turun, sehingga belum bisa dikumpulkan.

Nah, kembali ke asal syubhat: Kalau mereka mengatakan penulisan nama beliau sebagai bid’ah karena tidak terjadinya hal tsb di zaman Nabi, maka jawabannya ialah: Mereka harus mendatangkan dalil bahwa hal itu tetap tidak dilakukan oleh para sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’ien setelah budaya tulis-menulis semakin meluas di kalangan mereka. Buktikan bahwa mereka semua tidak melakukannya, dan hanya mencukupkan shalawat secara lisan saja !!!

keempat, Imam Abu Thahir As Silafi (478-576 H) dalam kitab beliau yg berjudul: Al Wajiez fil Mujaazi wal Mujiez (hal 92-95) menyebutkan sebuah riwayat lengkap dengan sanadnya dari Abul Qasim, Hamzah bin Muhammad bin Ali Al Kinani Al Haafizh, katanya:
المجاز والمجيز (ص: 93):
كنت أكتب الحديث فأصلي فيه على النبي صلى الله عليه و سلم ولا أسلم فرأيت النبي صلى الله عليه و سلم في المنام فقال لي أما تتم الصلاة علي في كتابك فما كتبت بعد ذلك إلا صليت عليه وسلمت صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم تسليما

Biasanya jika aku menulis hadits, aku hanya mencantumkan shalawat padanya tanpa menyertakan salam. Kemudian aku melihat Rasulullah dalam mimpiku, dan beliau mengatakan: Mengapa engkau tidak menyempurnakan shalawat atasku dalam kitabmu? Maka semenjak itu, aku tidak pernah menulis nama beliau kecuali menyertakan shalawat dan salam atasnya dan atas para sahabatnya.

Meskipun mimpi tidak bisa menjadi dalil dalam memutuskan suatu masalah, akan tetapi Imam Nawawi mengatakan dlm Muqaddimah Syarah Shahih Muslim-nya (hal 75), bahwa kita tidak boleh menetapkan suatu hukum berdasarkan mimpi. Akan tetapi bila seseorang melihat Nabi dalam mimpinya, lalu beliau memerintahkannya melakukan kebaikan, atau melarangnya dari perbuatan tercela, atau menganjurkan sesuatu yang sifatnya membawa kemaslahatan, maka tidak ada khilaf akan dianjurkannya beramal sesuai dengan mimpi tersebut. Sebab hal ini tidak termasuk menetapkan hukum dengan berdasar kepada mimpi semata, akan tetapi berdasarkan sesuatu yg memang ditetapkan dalam syari’at.

Jadi, memang dalam syari’at kita diperintahkan untuk bershalawat bila disebut nama Nabi, maka hadits yg tak lain adalah mimpi tsb semakin memperkuat anjuran tsb setiap kali kita menulis nama/gelar beliau. Wallaahu a’lam

—————-

dijawab oleh ustadz Sufyan Basweidan,Lc.,M.A. dalam blog beliau (http://basweidan.wordpress.com)

About Mahdiy

Seorang penuntut ilmu kecil-kecilan.. ^^

Posted on September 11, 2012, in fiqih and tagged , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. As’kum, Sholwat yg di iringi rebana apkah bid’ah & tdk patut di ajrkan kpda gnrasi islam? Dgn adnya sholwt yg di iringi rbna para gnrasi pnerus lbih sering mnybut nma allah & rosulny, apkah itu tdk lbih baik drpda mnyanyi lgu cptaan artis,?

  2. Pada saat kita sholat,dalam taqiat akhir ada bacaan sholawatnya berarti sholat kita bidah..

  3. Tulisan Basweidan ini tidak berdalil

    A. Kapan Nabi membuat kaidah: “hukum tulisan adalah seperti ucapan” ? Kapan ada hadits Nabi atau ayat Quran yang menyatakan hal ini

    B. Shalawat adalah ibadah. Menuliskan lafal shalawat disamakan dengan mengucapkan shalawat: MANA DALILNYA? Ini coba ditanyakan kepada Basweidan manakah Nabi mengatakan begitu.

    C. yang namanya bid’ah harus memiliki dua kriteria: pertama, adanya alasan untuk melakukannya di zaman Nabi. Dan kedua, tidak adanya penghalang untuk melakukan hal tsb.
    ==> Ini juga kaidah apa ini kok tidak berdalil sama sekali. kapan Nabi memberikan syarat: ada alasan untuk melakukan di zaman Nabi…

    kalau kaidah ini dipakai maka tentu saja shalat subuh 10 rekaat (karena zaman sekarang orang banyak berbuat dosa tidak seperti zaman sahabat) ini sesuatu yang baik dan tidak bisa dimasukkan bidah karena: tidak ada alasan untuk melakukan di zaman Nabi (karena sahabat Nabi orang 2 mulia dan luar biasa amalan mereka)

    Zakat juga diturunkan saja menjadi 1% saja (karena zaman sekarang banyak orang kaya tidak seperti zaman sahabat), ini sesuatu yang baik dan tidak bisa dimasukkan bidah karena: tidak ada alasan untuk melakukan di zaman Nabi (karena sahabat Nabi kebanyakan orang lemah (keuangannya))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: