5 Sebab Terbesar Mahasiswa Futur Dari Manhaj

Untukmu yang sudah “ngaji”;

Tulisan ini sekedar reposting dari Ammi Ahmad Alawi, yang menyebutkan sebab dari fenomena banyaknya mahasiswa yang futur dan menjauh dari manhaj. Teringat sebuah nasihat, “Tidaklah sulit untuk hidup di atas sunnah, yg sulit ialah untuk mati di atasnya.” :'(

_________________

jalan sunnahMahasiswa identik dengan sosok muda yang energik, idealis, pintar, cerdas, intelek, kritis, dan potensial. Sehingga mahasiswa selalu dianggap sebagai ikon perubahan serta sumber daya manusia yang luar biasa.

Namun, di balik itu semua, mahasiswa sebenarnya juga tak lebih dari sekumpulan anak muda yang rentan terjatuh dalam penyimpangan dan kerusakan. Jiwa muda selalu menuntut mereka untuk mencari jati diri. Ditambah lagi dengan kegelisahan batin serta gejolak psikologi yang tidak menentu, menjadikan mahasiswa seolah berada di antara 2 cuaca: panas dingin.

Kita bersyukur kepada Allah, pada hari ini semangat para pemuda (mahasiswa) untuk mempelajari Islam dengan manhaj Salaf telah tumbuh sangat pesat dan signifikan. Di seantero negeri ini, telah banyak kajian Islam Manhaj Salaf yang alhamdulillah selalu ramai dengan para pemuda (mahasiswa).

Namun, harus pula diakui, seiring bertambah pesatnya para mahasiswa yang sudah mau mengaji ilmu sunnah, seiring itu banyak pula para mahasiswa yang berguguran dari manhaj alias futur, tidak sanggup istiqomah di atas alhaq.

Setelah diamati, inilah 5 sebab terbesar mahasiswa futur dari manhaj:

1. TERKENA FITNAH WANITA

Point ini merupakan sebab yang teratas dan paling banyak terjadi dari ke-5 sebab yang ada. Seorang mahasiswa sudah ngaji, tapi tak sanggup melawan perasaan cintanya kepada wanita yang menaklukkan hatinya. Akhirnya ia pun lebih memilih menjalin hubungan asmara dengan wanita tersebut (biasanya teman mahasiswinya). Biasanya wanita itu awam, belum ngaji. Sehingga si mahasiswa sering mengalami perang batin antara takut dosa dan cinta yang membara. Namun akhirnya ia menyerah kepada cintanya. Konsekuensinya, ia pun kian menjauh dari majelis ilmu serta teman-teman sesama ngajinya. Lama-lama ia pun menghilang. Melepas ikatan manhajnya. Ia lebih suka menghabiskan hari dengan sang pacar daripada tholabul ‘ilmi. Kalau ada mahasiswa yang mulai berani menjalin “cinta terlarang”, tunggu saja apa yang akan terjadi.

2. KESIBUKAN DUNIAWI DAN KULIAH

Kuliah memang sangat menguras waktu, tenaga, pikiran, dan biaya. Mahasiswa ngaji yang tidak pandai mengatur waktu, ditambah dasar karakternya malas mencari ilmu, lambat laun bisa futur karena “tak ada waktu” buat bermajelis ilmu. (Tapi futsal plus ngegame kok jalan terus?:|)

3. TEKANAN ORANGTUA

Kebanyakan orangtua yang masih awam tidak senang bila anaknya ngaji. Risih melihat anak lelakinya jadi jenggotan, celana cingkrang, ga’ mau tahlilan lagi, dll. Gerah lihat anak gadisnya pakai jilbab lebar panjang, apalagi pakai niqab. Maka, tak jarang orangtua pun melakukan berbagai intimidasi, ancaman, kecaman, serta kemarahan, agar anaknya “tidak aneh-aneh”, yang biasa saja. Anak yang tak tahan dengan sikap orangtua yang semacam ini lambat laun akan goncang jiwanya, hingga kemudian dengan berat hati meninggalkan manhaj dengan alasan kasihan sama orangtua, demi bakti pada orangtua.

4. TERMAKAN FITNAH SYUBHAT

Konsep berpikir mahasiswa yang serba kritis dan idealis, acapkali membuatnya tak puas ngaji Manhaj Salaf yang haq. Ia pun masih terus mengembara dari satu kajian ke kajian lain yang menawarkan ragam pemahaman yang berbeda-beda, yang tentunya tak berjalan di atas alhaq. Ironisnya, dari sekian banyak pemahaman yang menyimpang itu, ada yang menarik hatinya. Ia pun kian dalam mengikutinya. Hingga tanpa terasa manhaj Salafnya makin terpendam, dan tergantikan oleh manhaj baru yang tidak sesuai ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Shahabat. (Kami memiliki seorang murid yang dulunya sangat semangat mempelajari ilmu sunnah dan manhaj Salaf. Namun, ia juga tak membentengi diri dari pengaruh pemahaman di luar ilmu sunnah. Dia terkena fitnah syubhat Khawarij. Hingga akhirnya sekarang dia sudah tidak ngaji manhaj Salaf lagi, tapi lebih berpegang dengan manhaj khawarijnya. Wal’iyadzu billah)

5. SENGAJA MENINGGALKAN MANHAJ TANPA SEBAB APAPUN

Mahasiswa pada kategori ini biasanya niat awal ngajinya dulu hanya ingin incip-incip saja, bukan karena jujur dan serius ingin mendalami agama agar bisa diamalkan sehari-hari sebagai bekal kehidupan akhirat. Ia cuma sekedar ingin tahu: “Kayak apa sih rasanya ngaji Salafy itu?”

Setelah dirasa cukup dia merasakan jadi “orang ngaji”, ya sudah, begitu saja, dia pun meninggalkan manhaj tanpa beban sama sekali. Tanpa merasa dosa. Tanpa peduli dengan istilah futur. Karena memang niatnya ngaji cuma buat ikut-ikutan saja. Coba-coba. Ingin tahu, seperti apa rasanya. Mahasiswa ngaji jenis ini tak ada bedanya sama mahasiswa awam yang belum mengenal ilmu.

Inilah wahai ikhwan, 5 sebab terbesar mahasiswa futur, dan ini bukan sebagai pembatasan. Barangkali Anda bisa menyebutkan sebab- sebab lainnya? Silahkan tambahkan!

Setelah membaca ini, buat adik-adikku para mahasiswa, luangkanlah waktu sejenak buat intronspeksi diri. Apakah dirimu termasuk mereka? Sungguh hidayah ini sangat mahal…;(

About Mahdiy

Seorang penuntut ilmu kecil-kecilan.. ^^

Posted on Januari 2, 2013, in Keislaman and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: