Masalah Mahasiswa dalam Belajar Tajwid

tahsin tajwid quranBelajar tajwid(tahsin) merupakan sebuah hal yang utama dan mulia. Banyak keutamaan di dalamnya. InsyaAllah setiap kita telah hafal sebuah hadits;

sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.”[HR.Bukhari]

Juga keutamaan-keutamaan lainnya dalam mempelajari al-Qur’an seperti; Memberi Syafaat pada hari kiamat, Mendapat derajat yang tinggi, Mendapat ketenangan, rahmat, & dibanggakan Allah, mendapat Pahala yang berlipat, menjadi keluarga Allah, dsb.

Namun dalam dunia kampus, terkhusus mahasiswa, pembelajaran al-Qur’an memiliki beberapa kendala. Sekedar repost dari catatan saya, disampaikan oleh Ust Arham Ahmad,Lc. menurut pengalaman beliau selama berinteraksi dengan mahasiswa (baik di UNESA, ITS, dan UI).

1. Niat yang kurang ikhlas. Banyak mahasiswa yang belajar tajwid untuk mencari prestise. Dengan mengharapkan label “pernah belajar tahsin” ataupun menjadi imam masjid/mushola fakultas. Niat-niat semacam ini yang nantinya malah memperberat sanksi kita dihadapan Allah kelak. Ada juga yang ikut tahsin sebatas coba-coba saja, cari pengalaman, sehingga bergelar Ph.D (petualang halaqoh dan dauroh), yang ilmunya tidak bernambah, karena niatnya yang salah, sebatas ikut-ikutan saja.

2. Kurang bersungguh-sungguh/bermujahadah. Ketika kita telah bermujahadah untuk belajar al-Qur’an, maka seharusnya kita meluangkan waktu yang kita khususkan untuk belajar tajwid, tentunya dengan menggeser jadwal/agenda-agenda lainnya. Kebanyakan mahasiswa yang menganggap dirinya “wah” (intelek , punya seabreg kegiatan/kesibukan), sering menjadikan kesibukan-kesibukan tersebut sebagai alibi untuk bolos tahsin.

3. Minimnya kesabaran dan keistiqomahan dalam belajar. Untuk poin ini sebenarnya adalah implikasi dari ketidak ikhlasan niat. Berdasarkan pengalaman, paling banyak peserta yang tersisa dari sebuah halaqoh tahsin mahasiswa itu ya cuma 2 orang saja.

 4. Kemudian mengenai kesabaran, beliau bercerita, ada seorang aktivis da’wah yang tidak mau belajar tahsin, ketika ditanya, jawabannya; “Ane udah pernah belajar Takhsin ustad”. Padahal melafazhkan “tahsin” saja masih salah (pakai huruf kha’), kalau memang sudah belajar tahsin pastinya akan benar dalam pelafalannya, tapi berhubung belajarnya itu “takhsin” ya wajar saja kalau salah fatal :D. Dan memang betul, dalam sebuah kesempatan, aktivis dakwah ini membacakan al-Qur’an, ternyata tajwidnya masih rusak parah. Ironis sekali jika seorang yag melabeli dirinya dengan da’wah, tapi tidak mau untuk memperbaiki kualitas bacaannya.

Semoga setiap kita yang masih berstatus mahasiswa, bisa mengambil pelajaran dan menghindari 4 hal di atas ketika telah memutuskan untuk belajar tajwid. Dan untuk anda yang belum belajar tajwid secara serius(maksud serius di sini yaitu telah talaqqi kepada seorang ustadz/guru tajwid, atau mengikuti program tahsin dengan serangkaian merhalahnya; tahsin1,tahsin2,takhassus, dll) maka belum terlambat tentunya untuk belajar secara serius, insyaAllah sudah banyak lembaga-lembaga yang membuka kelas tahsin tersebut. Sekedar tambahan, menurut pengamatan saya, -kebanyakan- mahasiswa yang bacaan Qur’annya bagus(sesuai tajwid), ialah orang-orang yang sibuk, dengan seabreg kegiatannya. Sedangkan yang banyak lowongnya (yang waktunya banyak diisi dengan main game, baca komik/novel, kongkow-kongkow di gazeb, dll) -kebanyakan juga- bacaannya masih belepotan. Tanya kenapa?

About Mahdiy

Seorang penuntut ilmu kecil-kecilan.. ^^

Posted on Januari 6, 2013, in Keislaman and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: