Kematian al Buthy, Makarnya Orang Syi’ah

Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy. (aljazeera.net)

Dunia sempat terkejutkan dengan wafatnya seorang Ulama Asya’iroh, Prof. Sa’id Ramadhan al Buthy yang meninggal disebabkan sebuah operasi saat beliau mengisi majelis fiqih dai salah satu Masjid di Damaskus.

Selepas kematian  al Buthy kamis lalu(21/03), Basyar Ass’ad mengatakan, “Mereka telah membunuhmu, ulama kami, karena Anda angkat bicara dalam menghadapi pemikiran gelap mereka yang bertujuan untuk menghancurkan prinsip-prinsip agama kita yang mengampuni. Janji dari rakyat Suriah dan saya salah satunya, bahwa darah Anda, cucu Anda dan para martir dan semuanya tak akan sia-sia, karena kami akan terus mengikuti pemikiran Anda untuk membasmi kegelapan mereka.” (news.detik.com)

Pernyataan Basyar Ass’ad jelas merupakan taqiyahnya Orang Syi’ah. Salah satu tujuannya ialah untuk memberikan fitnah dan propaganda, untuk menghentikan gerak revolusi di Suriah. Syi’ah Nushairiyah tidak mungkin membiarkan ada tokoh sunni(yg jelas bukan syi’ah) yang menentang langkah mereka di Suriah. Sebelumnya para intelejen rezim Suriah masih membiarkan al Buthy hidup. Karena jelas sekali beliau mendukung rezim Ass’ad. Beliau mengatakan wajib berjihad bersama pemerintah/rezim Ass’ad, bukan malah memeranginya. silakan lihat di http://www.firanda.com/index.php/artikel/lain-lain/398-kehinaan-ulama-aswaja-abad-ini-muhammad-sa-id-romadhoon-al-buuthy

Namun kabarnya, al Buthy belakangan ini telah berubah pandangannya terhadap rezim Bashar Ass’ad. Beliau mendoakan keburukan bagi rezim Ass’ad dan pengikutnya. Dan tentunya, intelejen syi’ah langsung mengambil langkah, karena salah satu orang yang berpengaruh yang mendukung mereka, sekarang berbalik arah. Seperti yg disampaikan oleh Persatuan Ulama Suriah, rezim Ass’ad lah yang melakukan operasi bom bunuh diri yang menewaskan al Buthy. Juga fakta menarik yang terjadi saat operasi tersebut, bahwa operasi tersebut bukanlah operasi bom bunuh diri, melainkan pembunuhan dan pembantaian berencana. Bisa kita lihat disini http://chirpstory.com/li/62871

Ya memang itu kerjaan orang Syi’ah, melakukan ‘bom bunuh diri’ di baitullaah, Masjid. Menghentikan tokoh kesesatan dengan cara membunuhnya bukanlah jalannya Ahlussunnah. Pena dilawan dengan pena, pedang dilawan dengan pedang. Namun bagi Syi’ah, segala cara halal dilakukan untuk menghentikan orang yang menentang mereka. Teringat seperti yang mereka lakukan beberapa tahun lalu pada Syaikh Dr. Ihsan Ilahiy Zhahir dan Ulama lainnya.

Terlaknatlah engkau wahai Syi’ah. Semoga Allah membalas makar-makarmu di dunia dan di akhirat.

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“(Orang-orang kafir itu) membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” [QS Ali Imran:54]

About Mahdiy

Seorang penuntut ilmu kecil-kecilan.. ^^

Posted on Maret 23, 2013, in Kabar Islam and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. sebuah pelajaran berharga, bagi engkau para pemuja..

    Harusnya Al-Buthiy ditempatkan sebagai manusia biasa. Tidak perlu digelari ulama kharismatik. Dia bisa salah dan bisa benar. Kesalahan-kesalahan langkah politiknya yang mendukung rezim kafir nushairiyyah sampai mengeluarkan fatwa kebolehan memberangus gerakan revolusi, mengeluarkan kata-kata kufur berkali-kali, kekeliruan-kekeliruan ilmiyahnya, dan juga permusuhannya kepada mazhab salaf dan imam-imam cukuplah menjadikan kita inshaf.

    Al-Buthiy melakukan kesalahan-kesalahan fatal. Dan semua ahlul ilmi baik yang salafi dan asy’ariyyah sepakat mengenai kesalahannya. Dengan sebab kesalahan-kesalahannya itu sebagian kalangan seperti jihadis mengkafirkan beliau. Sebagian yang lain seperti Syaikh Ali Ash-Shabuniy memandangnya ulama suu` dan sesat. Bagi orang yang hatinya dalam beribadah kepada Allah Ta’ala selalu berta’alluq dengan pribadi dan tokoh tentu sulit menerima kenyataan penyimpangan dan kesesatan Al-Buthiy. Dan sebagian orang memandangnya dengan timbangan syariah; tidak mengingkari keilmuannya; mengakui kesalahan ijtihad politik dan fatwa-fatwanya berkaitan dengan revolusi; serta tidak mengkafirkannya dikarenakan tidak terpenuhinya mawaani’ takfiir–setidaknya hal itu merupakan sikap kebanyakan ulama pasca tewasnya Al-Buthiy.

    Orang yang beribadah selama tujuh puluh tahun nonstop pahalanya bisa dikalahkan dengan dosa zina yang dilakukan selama tujuh hari. Ketika ditimbang ternyata lebih berat dosa yang dilakukan dalam hitungan hari dibandingkan ibadah puluhan tahun. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf.

    Betul kita tidak mengkafirkan orang yang melakukan maksiat selama tidak menghalalkannya. Namun, kita pun tidak perlu berlebihan memandang ulama yang kita cintai. Apalagi sudah terbukti melakukan kesalahan-kesalahan besar dan fatal bahkan sebagiannya mencapai derajat kufur.

    Serahkan saja masalah Al-Buthiy kepada Allah. Dia Maha Mengetahui. Dia Maha Adil dan Bijaksana. Dan Dia adalah Hakim yang paling adil. Juga Tuhan yang paling pengasih.

    Sikap terus menerus memuji Al-Buthiy sangat tidak mendidik dan mencerahkan. Harusnya banyak orang bisa mendapatkan nasehat dan pelajaran terutama bagi para ulama dan thullaabul ‘ilmi. Bahwa mendekati pintu penguasa sangatlah berbahaya. Umumnya orang tergelincir. Sehingga sirah mereka diakhir hayatnya dipenuhi dengan kejelekan..

    via ust Ibnu Luthfie At-Tamaniy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: