Syaikh Sa’ad al Ghamidiy, Qaari’ yang Berbakti

ImageBeberapa hari ini seorang qaari’ masyhuur yang memiliki suara indah nan empuk berkunjung ke Indonesia. Siapa yang tidak kenal beliau, Syaikh Sa’ad al Ghamidiy. Kabar yang ramai beredar bahwa beliau ialah imam di Masjidil Haraam, Mekkah KSA. Kabar ini keliru, beliau BUKAN imam Masjidil Haraam. Imam resmi masjidil haram salah satunya ialah Syaikh Khaleed al Ghamidi, bukan Syaikh Sa’ad.

Syaikh Sa’ad al Ghamidiy juga bukan Imam rawatib masjid an Nabawiy, namun beliau memang pernah mengimami shalat tarawih di Masjidin Nabawiy pada tahun 1431H/2009M. Beliau lahir dan tinggal di Dammam, serta memiliki pesantren tahfizh qur’an di sana. Jarak antara Dammam dengan Madinah lebih dari 1000km. Beliau juga memiliki sanad qira’ah Hafsh dari Imam ‘Ashim.

Lantas mengapa qaari’ masyhur seperti beliau tidak menjadi Imam rawatib di kedua Masjid (masjidil haram & masjidin nabawi) tersebut? ada sebuah cerita yang memiliki pelajaran yang amat berharga bagi kita,

Cerita ini dilansir oleh redaksi majalah “Nun”, ketika tim redaksi melakukan kunjungan ke kantor tempat beliau bekerja, Markaz Manaar -l Huda, di Dammaam. Di antara pertanyaan yang disampaikan kepada beliau dalam kunjungan tersebut adalah:

Penanya: “Sejauh apa kebenaran berita yang mengatakan bahwa Anda ditawari untuk menjadi imam di Al-Haram Al-Makky (Al-Masjid Al-Haraam) oleh Al-Amiir ‘Abdul Majiid rahimahullaah? Apa sebab Anda menolak tawaran tersebut?”

Syaikh: “Ya, saya pernah ditawari untuk menjadi imam Al-Haram Al-Makky beberapa tahun yang lalu. Akan tetapi saya menolaknya dalam rangka memenuhi keridhaan kedua orang tua saya yang menginginkan saya agar tetap tinggal bersama mereka. Saya tidak pernah menyesal telah menolak tawaran tersebut.” (sumber: Majalah “Nun”, no. 46)

MasyaaAllaah, beliau lebih memilih tinggal bersama kedua orang tuanya demi keridhaan mereka, daripada menjadi imam di dua masjid haramain. Padahal menjadi imam masjidil haram memiliki kebaikan yg luar biasa besar, bacaan qur’an beliau bisa didengar oleh ratusan jutaan kaum muslimin di seluruh dunia. Namun, keridhaan orang tua lah yang beliau pilih. Dalam sebuah hadits yang insyaAllah kita semua sudah menghafalnya;
Keridhaan Allah bergantung pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan Allah, bergantung pada kemurkaan kedua orang tua” [HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albaniy]

Apalah artinya keridhaan berjuta-juta manusia, tanpa keridhaan kedua orang tua -yang artinya tanpa keridhaan Allah Ta’ala. Jika Syaikh Sa’ad al Ghamidiy menolak menjadi imam masjidil haram karena demi permintaan orang tua, mari kita tanyakan pada diri kita;

“Sesuatu apa yang telah kita tinggalkan demi permintaan kedua orang tua kita?”

atau mungkin sering orang tua kita meminta sesuatu pada kita yang tidak dapat kita penuhi, maka coba kita tanyakan pada diri ini,

“Sesuatu apa yang telah menjadikan kita menolak permintaan orang tua?” Apakah kita juga diminta menjadi Imam Masjdil Haram seperti syaikh Sa’ad? atau hanya sebatas kemalasan dan hal-hal sepeleyang kita jadikan alasan untuk menolak permintaan mereka?..

—-

sumber:

http://www.sheekh.com/saad-alghamdi/

About Mahdiy

Seorang penuntut ilmu kecil-kecilan.. ^^

Posted on Maret 29, 2013, in Kabar Islam, Keislaman and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. I will right away seize your rss as I can not find your e-mail subscription link or e-newsletter service.
    Do you’ve any? Please allow me recognise so that I could subscribe. Thanks.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: