Sebuah Renungan

mujahid tilawahTeramat sering kita memikirkan pandangan orang lain terhadap diri kita. Kita berpikir, apakah orang lain tersebut menyukai penampilan, perilaku, tutur kata kita, atau malah membencinya. dan teramat banyak waktu yang kita keluarkan untuk berusaha membuat orang lain berpandangan positif terhadap diri kita.

Namun, pernahkah kita meluangkan waktu sejenak untuk memikirkan, bagaimana pandangan Allah Ta’ala, Rabbnya manusia, terhadap diri kita. Apakah Allah mencintai hambanya ini? atau malah membencinya..

Jika Allah Ta’ala senang kepada hamba-Nya, Dia menjadikannya senang dengan amalan ketaatan, dan hatinya terhiasi oleh amal shalih yang ia lakukan.

حَبَّبَ إِلَيْكُمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِى قُلُوبِكُمْ
“Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu” [QS al Hujurat:7]

Sedang bila Dia membenci seorang hamba, Dia menjadikannya malas dalam berbuat ketaatan, dan menjadikannya senang dengan kemaksiatan.

كَرِهَ ٱللَّهُ ٱنۢبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ
“Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka” [QS at Taubah:46]

Silakan introspeksi diri kita masing-masing. Bagaimana kondisi hati kita saat melakukan ketaatan? Penuh rasa cinta, takut, dan harap kah? atau dipenuhi rasa kemalasan dan keterpaksaan? Dan lihat kondisi hati kita saat melihat kemungkaran dan kemaksiatan, apakah hati kita terasa panas dan ada keinginan kuat untuk mengingkarinya? atau malah terhanyut oleh lingkungan dan suasana, dan ikut terjerembab dalam hal yang diharamkan.. ‘Iadzan billaah

Biar Ga Isbal, tapi Tetep Gaul

Image

Semua dari kita ingin berpenampilan keren, modis, gaul, dan sebagainya. Memang penampilan itu penting, karena manusia banyak menilai orang dari ‘cover’nya, dan wajib pula bagi setiap muslim untuk berpenampilan baik dan rapih, karena Allah Ta’ala itu indah dan mencintai keindahan. Namun ada beberapa adab dalam berpakaian dan berpenampilan yang perlu diperhatikan, salah satunya ialah TIDAK ISBAL.

Kondisi masyarakat kampus yang heterogen memang menuntut kita untuk bisa menyesuaikan diri, karena banyak yang belum terbiasa atau mungkin memandang miring para ‘cingkrangers’. Maka agar tetap gaul, tetap berbaur tapi tidak melebur, laksanakan perintah Nabi kita sebatas kemampuan kita. Celana boleh kita julurkan MAKSIMAL sampai mata kaki, dan itu lebih selamat dan lebih baik. Karena terlalu tidak isbal (artinya celana hingga pertengahan betis) pun ditakutkan akan menjadi libas syuhroh yg dilarang, yaitu pakaian yg nyentrik yang menjadi bahan pembicaraan negatif di masyarakat. So, tetap berpenampilan menarik tapi sesuai Syari’at! :)

*Isbal= menjulurkan pakaian melebihi mata kaki.

pembahasan seputar isbal bisa dibaca di sini http://addariny.wordpress.com/2009/05/19/ada-apa-di-balik-isbal/

Berjalanlah Selangkah Demi Selangkah

jalan allah panjang

Berkata Syaikh al-Albaniy -rahimahullah-; “Jalan Allah itu Panjang, akan tetapi Kita Menempuhnya layaknya Kura-Kura. dan tujuannya bukanlah dengan engkau sampai pada ujung jalannya, tetapi tujuannya ialah dengan engkau mati di atas jalan tersebut.”

Bagi kita yang menisbatkan diri pada ilmu, dengan menjadi seorang penuntut ilmu syar’i, para ulama salaf lah yang menjadi sosok panutan. Bila melihat para imam kaum muslimin; Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan para ulama lainnya –rahimahumullahu jami’an. Diri ini melihat sosok-sosok yang luar biasa, yang memiliki pemahaman yang mendalam, hafalan yang amat kuat, dan keistiqomahan dalam memegang kebenaran. Mereka telah hafal al Qur’an sejak kecil, hafal ribuan hadits, dan menguasai seluruh cabang-cabang ilmu syar’i.

Bagi kita yang hidup di akhir zaman seperti ini, saat fitnah kian deras menerpa hamba yang mencoba beriltizam untuk senantiasa berada di atas al haqq. Mungkin ringan bagi sebagian orang yang Allah berikan nikmat padanya, untuk mengkhatamkan(menghafal) al Qur’an, ribuan hadits, matan-matan ilmiah para ulama. Namun banyak dikalangan penuntut ilmu syar’i yang kesulitan atau bahkan jauh dari hal ini. Terutama yang hidup di lingkungan yang tidak mendukungnya untuk merealisasikan hal tersebut, hidup di lingkungan kampus sekuler, tempat kerja yang masih terdapat ikhtilath, ataupun para tetangga/masyarakat yang mengumbar aurat&maksiat. Tetapi itulah resiko para penggenggam bara api sunnah, ia hidup dan menyebar di tengah masyarakat namun dalam keterasingan.

Ingatlah kawan, yang diwajibkan atas kita ialah mempelajari dan mengamalkan syari’at semampu kita, secara bertahap sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah, diiringi keikhlasan dalam hati, hingga ajal menanti. Semoga kita meninggal setelah baru saja menghafal dan memurajaah al Qur’an, saat baru saja menghafal hadits-hadits Nabi. Meninggal ketika sedang memangku kitab-kitab para Ulama (setelah baru saja membacanya).

Demikian, sebuah perkataan emas dari seorang ulama rabbaniy yang penting untuk kita renungi. Bahwa amal yang sedikit namun berkelanjutan itulah amal yang paling Allah cintai. Semoga Allah berikan kita keistiqomahan untuk senantiasa berada di atas ash-shiraath al-mustaqiim.. Aamiin

Cinta Karena Allah?

pink egg love

Tulisan ini untuk para pecinta, yang hatinya terbawa pada syahawat berbalut syubuhat..

Katanya sih cinta itu tabiat yang pasti ada pada setiap diri manusia. Jatuh cinta pada si akhi atau si ukhti, yang katanya mendekatkan diri pada ilahi. Katanya sih mau menjaga hati, agar jangan hati terpaut dan mengurangi keimanan si dia tanpa ia sadari..

Ngakunya sih cinta si dia karena Allah,
Kalau dia sms langsung dibales, kalau dia chatting langsung direspon. Tapi kok ketika adzan(panggilan Allah), ke masjidnya malas-malasan. Ketika da’wah membutuhkannya, ia menghilang(?)

Ngakunya sih suka si dia karena Allah,
Kalau ngobrol sama dia excited banget. Kalau dia cerita, dengan seksama menyimak. Tapi kok ketika sholat(saat berbicara pada Allah), malah seolah beban. Ketika mambaca Qur’an(saat Allah berbicara kepada kita) kok malah jarang-jarang..

Ngakunya sih sayang si dia karena Allah, Tapi kok malah mau diungkapkan. Malah mau menuntunnya pada kemurkaan..

Ingat perkataan ini!:
Tidak Mungkin seseorang bisa mencintai orang lain karena Allah, kalau dia tidak mencintai Allah melebihi apapun..” [Ust Abdullah Taslim, MA]

Jika memang cinta dia karena Allah, sedang diri belum mampu untuk memberi kepastian (dengan pernikahan), maka simpan dalam-dalam perasaan tersebut, dan ENYAHKAN jika engkau mampu. Sekedar saran, karena cinta yang prematur, yang tidak dilandasi oleh ikatan syari’at hanya akan membawamu pada penyakit hati yang bernama kerinduan..

Patut dibaca nih kawan; http://almanhaj.or.id/content/2074/slash/0/terapi-rasulullah-dalam-penyembuhan-penyakit-al-isyq-cinta/

Syaikh Sa’ad al Ghamidiy, Qaari’ yang Berbakti

ImageBeberapa hari ini seorang qaari’ masyhuur yang memiliki suara indah nan empuk berkunjung ke Indonesia. Siapa yang tidak kenal beliau, Syaikh Sa’ad al Ghamidiy. Kabar yang ramai beredar bahwa beliau ialah imam di Masjidil Haraam, Mekkah KSA. Kabar ini keliru, beliau BUKAN imam Masjidil Haraam. Imam resmi masjidil haram salah satunya ialah Syaikh Khaleed al Ghamidi, bukan Syaikh Sa’ad.

Syaikh Sa’ad al Ghamidiy juga bukan Imam rawatib masjid an Nabawiy, namun beliau memang pernah mengimami shalat tarawih di Masjidin Nabawiy pada tahun 1431H/2009M. Beliau lahir dan tinggal di Dammam, serta memiliki pesantren tahfizh qur’an di sana. Jarak antara Dammam dengan Madinah lebih dari 1000km. Beliau juga memiliki sanad qira’ah Hafsh dari Imam ‘Ashim.

Lantas mengapa qaari’ masyhur seperti beliau tidak menjadi Imam rawatib di kedua Masjid (masjidil haram & masjidin nabawi) tersebut? ada sebuah cerita yang memiliki pelajaran yang amat berharga bagi kita, Read the rest of this entry

Senantiasalah Bersyukur

Foto pengemis yang saya ambil ketika pergi ke seminar ASHRAE di daerah Pancoran

Foto di atas ialah foto pengemis yang saya ambil ketika pergi ke seminar ASHRAE di daerah Pancoran beberapa waktu lalu.

____

Betapa banyak nikmat Allah yg telah diberikan pada kita, baik yg kita sadari ataupun tidak, dan tak terhitung jumlahnya. Bersyukur Allah mesih memberikan kita nikmat kesehatan, nikmat memiliki anggota tubuh yg lengkap, yg dengannya kita dapat melakukan berbagai aktivitas.. Pernahkah terpikirkan oleh kita, bahwa kenikmatan tersebut Allah cabut?

Apakah kenikmatan masih memiliki anggota tubuh yg lengkap ini senantiasa kita syukuri? kita salurkan ke dalam bentuk ketaatan pada-Nya. Atau malah nikmat&karunia ini malah kita gunakan utk melakukan maksiat pada-Nya?

Maka bersyukur kepada Allah lah yg seharusnya kita lakukan, baik besrsyukur dengan hati kita(dengan meyakini karunia tersebut ialah pemberian dari Allah), bersyukur dengan lisan kita(dengan melafazhkan “alhamdulillaah“), serta bersyukur dengan anggota tubuh kita(dengan melakukan berbagai amal ketaatan).

Ingatlah bahwa kenikmatan yg Allah berikan ini akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman;

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” [QS. At Takatsur: 8]

Semoga Allah menjadikan kita ‘abdan syakuuro, hamba yg bersyukur atas segala kenikmatan yg didapat, dan hamba yg tidak mudah mengeluh atas segala musibah yg menimpa..

%d blogger menyukai ini: