Arsip Blog

Daurah Liburan: Qawaid Fiqih

dauroh fiqih

.: DAURAH INTENSIF LIBURAN :.

QAWAID FIQHIYAH
~ Ringkasan Kaidah-Kaidah Fiqih ~

pemateri:
Ustadz Rishky Ariesta

Kitab Rujukan:
Manzhumah Qawaid Fiqhiyyah
karya Syaikh Abdurrahman as-Sa’dy

Senin-Kamis, 4-7 Februari 2013
pukul 08.30-15.00 WIB (3 sesi/hari)
@Markiz FKI, Belakang Masjid Alfarouq, Kukusan Teknik

Peserta terbatas(25 orang), khusus mahasiswa(putra/ikhwan) UI
Registrasi: DIL_Nama_Jur/Ang ke 089636116694
Fee Rp25.000,- (Free Modul)

Menguasai kaidah fiqh akan dapat diketahui hakikat fiqh, dasar-dasar hukumnya, landasan pemikirannya, dan rahasia-rahasia terdalamnya.” [as-Suyuthi]

organized by:
Forum Kajian Islam Universitas Indonesia

CP: 089636116694 [Rahmat FT09] – mahasiswamuslim.com

Iklan

Makan dan Minum Sambil Berdiri, Bolehkah?

Makan dan minum ialah perbuatan yang seringkali (atau bahkan selalu) kita lakukan. Apakah kita berilmu akan adab-adabnya? Masalah yang sering dijumpai ialah makan dan minum sambil berdiri. Ketika menjumpai kursi untuk duduk, maka hal ini tidak jadi masalah, karena hampir setiap  muslim tahu bahwa makan/minum sambil duduk itu lebih utama, dan kemudian kita duduk di kursi tsb untuk makan/minum. Namun ketika tidak dijumpai kursi/tempat duduk, atau sulit untuk mencarinya, terlebih lagi kita berada di dalam keramaian, sedang kita hendak makan/minum, apa yang sebaiknya kita lakukan? Mencari tempat duduk dahulu? atau makan/minum sambil berdiri? bolehkah? Langsung simak saja pembahasan berikut;

Hadits yang Membolehkan;

1. عن ابن عباس قال : شرب النبي صلى الله عليه وسلم قائماً من زمزم

Dari Ibnu ‘Abbas ia bekata : “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah minum air zamzam sambil berdiri” [HR. Bukhari no. 1637]

2. عن النَّزَّال قال : أتي علي رضي الله عنه على باب الرَّحبة بماء فشرب قائماً، فقال: إن ناساً يكره أحدهم أن يشرب وهو قائم، وإني رأيت النبي صلى الله عليه وسلم فعل كما رأيتموني فعلت

Dari An-Nazzaal ia berkata : ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu membawa air ke pintu masjid kemudian meminumnya sambil berdiri. Kemudian ia bekata : “Sebagian orang tidak suka minum sambil berdiri, padahal aku melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukannya Read the rest of this entry

Panduan Ringkas Fiqih Jual Beli

Panduan Ringkas Fiqih Jual Beli

Oleh: Ustadz Abu Yahya Badrussalam,Lc

A. Definisi Al Bai’ (Jual Beli)

Secara etimologi adalah mengambil dan memberikan sesuatu. Adapun secara istilah syari’at yaitu :menukar harta walaupun dalam tanggungan atau dengan manfaat yang mubah bukan ketika dibutuhkan dengan yang semisal, untuk dimiliki selama-lamanya bukan riba bukan pula hutang piutang”.

Penjelasan Definisi

(menukar harta) yang dimaksud dengan harta disini adalah setiap benda yang mubah dimanfaatkan bukan dalam keadaan hajat seperti emas, perak, gandum, kurma, garam, kendaraan, bejana, harta diam dan lain-lain.

(walaupun dalam tanggungan) maknanya bahwa ‘aqad terkadang terjadi dengan sesuatu yang tertentu dan terkadang dengan sesuatu yang dalam tanggungan. Contoh bila engkau berkata :” Aku beli bukumu dengan bukuku ini “. Ini dengan sesuatu tertentu. Tapi bila engkau berkata :” Aku beli bukumu dengan harga sepuluh ribu “. Maka ini dengan sesuatu dalam tanggungan. Masuk pula dalam definisi ini menjual sesuatu dalam tanggungan dengan sesuatu dalam tanggungan seperti engkau berkata :” Aku beli gula satu kilo dengan harga sepuluh ribu “. Lalu si pedagang pergi untuk menakar gula, dan engkau mengambil uang dari saku dan membayarnya.

(atau dengan manfaat yang mubah) maknanya atau menukar harta dengan manfaat yang mubah, seperti membeli manfaat jalan setapak milik orang lain untuk lalu lalang. Keluar dari definisi ini manfaat yang haram seperti alat alat musik dan sebagainya.

(bukan ketika dibutuhkan) keluar darinya barang yang boleh dimanfaatkan ketika dibutuhkan, seperti boleh makan bangkai ketika kelaparan, maka bangkai haram diperjual belikan karena manfaatnya mubah ketika dibutuhkan saja.

(dengan yang semisal) maknanya menukar uang walaupun Read the rest of this entry

%d blogger menyukai ini: