Arsip Blog

Top 10 Hadits Lemah dan Palsu yang Populer pada Bulan Ramadhan

Bismillah, wash Sholaatu was salaamu ‘ala Rosulillaah, wa ‘ala aalihi wa man waa laahu. Berikut adalah beberapa hadits yg masyhur(populer) di masyarakat, khususnya saat bulan Ramadhan yg penur berkah. Sering dibawakan oleh para penceramah, disebarkan lewat sms tausiyah, maupun artikel dan selebaran. Namun amat disayangkan, hadits2 tsb ialah Lemah dan Palsu. Amat penting bagi ummat Islam untuk mengetahui derajat sebuah hadits sebelum mengamalkan atau menyebarkannya, siapa yg meriwayatkan? apakah shahih atau tidak?. Karena hadits lemah, apalagi palsu, tidak dapat disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan mengatakan Rasulullah berkata begini dan begitu padahal -ia tahu bahwa hal tsb- tidak pernah keluar dari lisan beliau yg mulia ataupun tidak pernah dilakukan oleh beliau, merupakan dosa yg besar, sebagaimana sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّار

Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” [Muttafaqun ‘Alaihi dari shahabat Abu Hurairah, Al-Mughirah bin Syu’bah, dan yang lainnya]

Hadits lemah dan palsu seputar Ramadhan amat banyak, berikut saya bawakan 10 diantaranya; Read the rest of this entry

Ada Apa dengan Nisfu Sya'ban?

Apakah Nisfu Sya’ban itu?

Nisfu artinya separuh atau pertengahan, sedangkan Sya’ban ialah bulan ke-8 dari tahun Hijriah. Nisfu sya’ban berarti pertengahan bulan Sya’ban, yaitu tanggal 15 Sya’ban.

Adakah keutamaan tertentu di malam Nisfu Sya’ban?

Ada hadits yg umum yang menjelaskan keutamaan bulan Sya’ban, diantaranya;

Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah berpuasa dalam sebulan sebagaimana Beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam berpuasa pada bulan Sya’bân. Lalu ada yang berkata, ‘Aku tidak pernah melihat anda berpuasa sebagaimana anda berpuasa pada bulan Sya’bân.’ Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam menjawab, ‘Banyak orang melalaikannya antara Rajab dan Ramadhân. Padahal pada bulan itu, amalan-amalan makhluk diangkat kehadirat Rabb, maka saya ingin amalan saya diangkat saat saya sedang puasa.[HR Ahmad, 5/201 dan Nasâ’i, 4/102]

Dan memang ada satu dalil khusus -yang sah- tentang keutamaan malam nisfu Sya’ban;

Dari Mu’adz bin Jabal, Read the rest of this entry

Allah di Langit, Tapi Ilmunya Meliputi Segala Sesuatu

Dimana Allah?

Pertanyaan “Dimana Allah?” memang merupakan pertanyaan klasik, namun sangat mendasar. Bagaimana mungkin ummat Islam yang sumber hukumnya sama yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahiihah masih saja berbeda jawaban ketika ditanya “dimana Allah?”? tentulah karena pemahaman mereka yang keliru, yang lebih memilih menggunakan logika daripada atsar/perkataan dan pemahaman para salaful ummah. Jika kita menilik kembali pertanyaan ini, tentulah fitrah seorang hamba akan mengatakan bahwa Tuhannya ada di atas/di langit. Mereka yang menolak bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya terlalu banyak menta’wil(penginterpretasian bebas) keterangan yang amat jelas baik dalam alQur’an maupun hadits. diantaranya menta’wil kata Istawa(bersemayam) dengan arti istawla(menguasai) pada firman Allah,

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy.” (QS. Al-A’raaf:54)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menetapkan sifat-sifat Allah Ta’ala, tanpa tahrif(mengubah), ta’thil(meniadakan), tamtsil/tasybih(menyerupakan), tafwidh(menyerahkan begitu saja),dan takyif(menanyakan bagaimana).

Dengan tidak menetapkan sifat Allah yang berada di atas arsy-Nya, keyakinan orang yang mengatakan hal tersebut tidak lepas dari 2 hal, yaitu; Read the rest of this entry

[Hadits Palsu]: Dialog Rasulullah dengan Iblis

Beredar sangat banyak dan sudah lama, hadits tentang dialog antara Rasul mulia dan Iblis terlaknat. Sebagian masyarakat menganggap bahwa isinya baik dan bermanfaat sehingga layak disebarkan padahal hadits ini adalah hadits palsu dan dusta atas nama Nabi dan berisi hal yang bahaya dan mencederai Rasulullah dan shahabat.

Jangan disebarkan kecuali untuk mengingatkan kepada masyarakat bahwa hadits ini palsu dan dusta!

Berikut ini saya sertakan kajian tiga ulama dunia tentang hadits ini:

A. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

Ketika beliau ditanya tentang riwayat ini, berikut jawabannya:

“Ini hadits dusta. tidak terdapat di dalam kitab-kitab muslimin yang dipercaya baik kitab shahih, sunan ataupun musnad. siapa saja yang tahu bahwa ini adalah dusta atas nama nabi maka tidak boleh meriwayatkannya…” (Majmu’ al-Fatawa 18/350) Read the rest of this entry

%d blogger menyukai ini: