Arsip Blog

5 Sebab Terbesar Mahasiswa Futur Dari Manhaj

Untukmu yang sudah “ngaji”;

Tulisan ini sekedar reposting dari Ammi Ahmad Alawi, yang menyebutkan sebab dari fenomena banyaknya mahasiswa yang futur dan menjauh dari manhaj. Teringat sebuah nasihat, “Tidaklah sulit untuk hidup di atas sunnah, yg sulit ialah untuk mati di atasnya.” :'(

_________________

jalan sunnahMahasiswa identik dengan sosok muda yang energik, idealis, pintar, cerdas, intelek, kritis, dan potensial. Sehingga mahasiswa selalu dianggap sebagai ikon perubahan serta sumber daya manusia yang luar biasa.

Namun, di balik itu semua, mahasiswa sebenarnya juga tak lebih dari sekumpulan anak muda yang rentan terjatuh dalam penyimpangan dan kerusakan. Jiwa muda selalu menuntut mereka untuk mencari jati diri. Ditambah lagi dengan kegelisahan batin serta gejolak psikologi yang tidak menentu, menjadikan mahasiswa seolah berada di antara 2 cuaca: panas dingin.

Kita bersyukur kepada Allah, pada hari ini semangat para pemuda (mahasiswa) untuk mempelajari Islam dengan manhaj Salaf telah tumbuh sangat pesat dan signifikan. Di seantero negeri ini, telah banyak kajian Islam Manhaj Salaf yang alhamdulillah selalu ramai dengan para pemuda (mahasiswa).

Namun, harus pula diakui, seiring bertambah pesatnya para mahasiswa yang sudah mau mengaji ilmu sunnah, seiring itu banyak pula para mahasiswa yang berguguran dari manhaj Read the rest of this entry

Sikap Terhadap Kunjungan Obama ke Indonesia

Sebagai seorang muslim, kita dituntut untuk bersikap bara’(berlepas diri) kepada semua kekafiran dan orang kafir. Sikap bara’ tadi perwujudannya ialah dengan membenci kekafiran mereka dalam hati (ini wajib) dan terkadang kita dianjurkan untuk menyatakannya dengan lisan/perbuatan dalam situasi dan kondisi tertentu (seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim dalam QS Al Mumtahanah:4, dan penghancuran beliau terhadap berhala-berhala kaumnya). Akan tetapi untuk mengingkari dengan lisan dan tangan, haruslah mengindahkan kaidah ‘maslahat dan mafsadat‘; artinya, apa yang kita lakukan haruslah mendatangkan maslahat bagi diri dan agama kita, dan bila tidak demikian maka hal tersebut tidak dianjurkan. Karenanya, jika pengingkaran kita secara lisan (misalnya dengan mencaci maki berhala,orang kafir,dsb) malah menimbulkan dampak buruk bagi diri dan agama kita, hal tersebut menjadi haram. Allah berfirman:

وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

Janganlah kalian mencaci orang-orang yang menyembah selain Allah sehingga mereka membalas mencaci maki Allah tanpa ilmu dan penuh permusuhan.” (QS. Al An’am: 108).

Bara’ kepada kekafiran dan orang kafir juga harus diwujudkan dengan tidak mencontoh tingkah laku mereka yang bertentangan dengan syari’at Islam. Baik itu dalam sisi keyakinan, ibadah, akhlak, maupun mu’amalah mereka.

Bara’ kepada kekafiran dan orang kafir bukan berarti menzhalimi mereka. Kita tetap harus berlaku adil terhadap orang paling kafir sekalipun, dengan memberikan hak-haknya secara Read the rest of this entry

Terasing

Terasing.. Terasa nyamankah di telinga kita ketika mendengar kata tersebut? Begitulah yang digambarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengenai keadaan ahlussunnah di akhir zaman. Sebagaimana sabda beliau:

“Sesungguhnya Islam berawal dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing” [Shahih, HR Abu Dawud, At Tirmidzi]

Asing, aneh, diluar kebiasaan, dan kata-kata lain yang sejenis melekat pada seorang ahlussunnah yang istiqamah di atas sunnah Nabinya dan menggigitnya dengan gigi geraham di akhir zaman ini. Akhir zaman, yang pada saat munculnya berbagai fitnah, ujian, cobaan, munculnya orang-orang yg menyemarakkan kesyirikan dan melestarikan kebid’ahan, bertebarnya kema’siatan dan merajalelanya kezhaliman, makin banyaknya orang-orang yang menganggap remeh agama, mempermainkannya, bahkan mencampakkannya. Banyak cacian, hinaan, pemberian julukan-julukan dari orang-orang yang jahil terhadap agama kepada ahlussunnah, seperti: teroris, sok alim, jumud, kolot, aliran sesat, salah pemahaman, wahabi, mujassimah, maz’um, dan julukan konyol lainnya seperti: kambing(karena jenggotnya) & kebanjiran(karena tidak isbal pakaiannya). Julukan-julukan tsb akan semakin menjauhkan seorang dari sunnah,  membuat tertekan dan membuat semakin terasing orang-orang yang berusaha mengamalkan sunnah Nabinya yang mulia ‘alaihissholatu wassalam.

Ahlussunnah, ia terasing dalam agama ditengah kerusakan agama manusia. Ia terasing dalam pergaulan di tengah pergaulan manusia yang dipenuhi hawa nafsu, khalwat dan ikhtilat. Ia terasing dalam aqidah di tengah penyimpangan aqidah manusia. Ia adalah orang yang berilmu di tengah manusia-manusia yang jahil. Ia adalah pemurni aqidah di tengah para pelestari kesyirikan. Ia adalah pemegang sunnah di tengah manusia berbuat bid’ah. Ia adalah penyeru kepada Allah dan RasulNya di tengah para pe Read the rest of this entry

%d blogger menyukai ini: