Arsip Blog

Sikap Terhadap Kunjungan Obama ke Indonesia

Sebagai seorang muslim, kita dituntut untuk bersikap bara’(berlepas diri) kepada semua kekafiran dan orang kafir. Sikap bara’ tadi perwujudannya ialah dengan membenci kekafiran mereka dalam hati (ini wajib) dan terkadang kita dianjurkan untuk menyatakannya dengan lisan/perbuatan dalam situasi dan kondisi tertentu (seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim dalam QS Al Mumtahanah:4, dan penghancuran beliau terhadap berhala-berhala kaumnya). Akan tetapi untuk mengingkari dengan lisan dan tangan, haruslah mengindahkan kaidah ‘maslahat dan mafsadat‘; artinya, apa yang kita lakukan haruslah mendatangkan maslahat bagi diri dan agama kita, dan bila tidak demikian maka hal tersebut tidak dianjurkan. Karenanya, jika pengingkaran kita secara lisan (misalnya dengan mencaci maki berhala,orang kafir,dsb) malah menimbulkan dampak buruk bagi diri dan agama kita, hal tersebut menjadi haram. Allah berfirman:

وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

Janganlah kalian mencaci orang-orang yang menyembah selain Allah sehingga mereka membalas mencaci maki Allah tanpa ilmu dan penuh permusuhan.” (QS. Al An’am: 108).

Bara’ kepada kekafiran dan orang kafir juga harus diwujudkan dengan tidak mencontoh tingkah laku mereka yang bertentangan dengan syari’at Islam. Baik itu dalam sisi keyakinan, ibadah, akhlak, maupun mu’amalah mereka.

Bara’ kepada kekafiran dan orang kafir bukan berarti menzhalimi mereka. Kita tetap harus berlaku adil terhadap orang paling kafir sekalipun, dengan memberikan hak-haknya secara Read the rest of this entry

Iklan

Panduan Ringkas Fiqih Jual Beli

Panduan Ringkas Fiqih Jual Beli

Oleh: Ustadz Abu Yahya Badrussalam,Lc

A. Definisi Al Bai’ (Jual Beli)

Secara etimologi adalah mengambil dan memberikan sesuatu. Adapun secara istilah syari’at yaitu :menukar harta walaupun dalam tanggungan atau dengan manfaat yang mubah bukan ketika dibutuhkan dengan yang semisal, untuk dimiliki selama-lamanya bukan riba bukan pula hutang piutang”.

Penjelasan Definisi

(menukar harta) yang dimaksud dengan harta disini adalah setiap benda yang mubah dimanfaatkan bukan dalam keadaan hajat seperti emas, perak, gandum, kurma, garam, kendaraan, bejana, harta diam dan lain-lain.

(walaupun dalam tanggungan) maknanya bahwa ‘aqad terkadang terjadi dengan sesuatu yang tertentu dan terkadang dengan sesuatu yang dalam tanggungan. Contoh bila engkau berkata :” Aku beli bukumu dengan bukuku ini “. Ini dengan sesuatu tertentu. Tapi bila engkau berkata :” Aku beli bukumu dengan harga sepuluh ribu “. Maka ini dengan sesuatu dalam tanggungan. Masuk pula dalam definisi ini menjual sesuatu dalam tanggungan dengan sesuatu dalam tanggungan seperti engkau berkata :” Aku beli gula satu kilo dengan harga sepuluh ribu “. Lalu si pedagang pergi untuk menakar gula, dan engkau mengambil uang dari saku dan membayarnya.

(atau dengan manfaat yang mubah) maknanya atau menukar harta dengan manfaat yang mubah, seperti membeli manfaat jalan setapak milik orang lain untuk lalu lalang. Keluar dari definisi ini manfaat yang haram seperti alat alat musik dan sebagainya.

(bukan ketika dibutuhkan) keluar darinya barang yang boleh dimanfaatkan ketika dibutuhkan, seperti boleh makan bangkai ketika kelaparan, maka bangkai haram diperjual belikan karena manfaatnya mubah ketika dibutuhkan saja.

(dengan yang semisal) maknanya menukar uang walaupun Read the rest of this entry

%d blogger menyukai ini: