Arsip Blog

Jika Engkau Menikah Nanti

rings marry its sunnahBila engkau telah menikah nanti…

Jadilah teladan dalam rumah tangga. Didiklah istrimu dengan baik, sebab dialah yang akan menjadi sekolah pertama bagi anak-anakmu. Ajari ia tentang kewajiban-kewajiban agama, dan jangan biarkan ia melanggar larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya. Jagalah kemuliaan dan kehormatannya. Ajari ia agar menjauhi ikhtilath (bercampur baur dengan laki-laki yang bukan mahramnya) dan juga tabarruj (Bersolek di depan orang lain selain dirimu). Jangan biarkan ia meninggalkan istana kecilmu tanpa menutup aurat. Jagalah agar jangan sampai ia terjerumus dalam kerusakan akhlak dan agama. Berlemah lembutlah terhadapnya, karena Islam telah menempatkan kedudukan wanita pada martabat yang tinggi.

Bila engkau menikah nanti…

Jangan sekali-kali engkau ingin diperlakukan seperti raja dalam “istana”. Disambut istri ketika datang dan dilayani segala kebutuhan. Jika itu kau lakukan, maka ”istanamu” tidak akan langgeng. Tapi pahami ia, dan ajari dia bagaimana menjadi istri yang baik, niscaya dia akan memperlakukanmu lebih dari yang kau inginkan. Istrimu bukanlah seorang Hajar, bukan juga seorang Maryam, bukan pula seorang Aisyah, Apalagi Khadijah. Read the rest of this entry

Iklan

Dibini Dulu Baru Dibina

rose ringMemilih calon pasangan dengan istilah “Dibini Dulu Baru Dibina” memang masih menjadi pilihan beberapa ikhwan. Tidak salah memang memilih calon istri berdasarkan kecantikannya, karena salah satu tujuan pernikahan ialah untuk menundukkan pandangan, dan ini akan terpenuhi bila sang istri menyejukkan mata suaminya ketika ia memandangnya.

Namun pernikahan bukan sekedar memenuhi nafsu saja, lebih dari itu, yaitu untuk menyempurnakan agama&ibadah, menegakkan rumah tangga yang Islami, dan membentuk generasi penerus ummat ini. Oleh karena itu, Nabi shallallahu’alayhi wa sallam menyuruh kita untuk memilih wanita karena agamanya. Karena agama-lah yang dapat membimbing dalam aqidah, ibadah, muamalah, dan akhlaqul karimah.

Seorang wanita dinikahi karena empat hal; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang taat agamanya (ke-Islamannya), niscaya kamu akan beruntung.” [Muttafaq ‘alayhi]

Jika setelah pernikahan kita masih sibuk untuk membina istri kita, mengajarkannya aqidah dan ibadah yang shohihah, mengajarkan mu’amalah dan akhalqul kariimah, mengajarkannya untuk membaca al-Qur’an sesuai kaidah(tajwid), membimbingnya untuk menghafal al-Qur’an yang mudah. Maka akan sulit untuk berakselerasi menuju tujuan pernikahan yang sesungguhnya. Apakah ketika anak kita telah terlahir, sang istri telah mampu untuk menjadi madrasah baginya? Atau pembinaan terhadap istri cenderung lambat atau bahkan tidak berhasil sehingga sang bunda tidak dapat menjadi tauladan bagi anaknya?

%d blogger menyukai ini: