Arsip Blog

Yang Berjiwa Hanif itu…

humble heart islam cover facebook copyMereka yang berjiwa hanif itu lembut hatinya, santun perangainya, teduh tatapan matanya, bercahaya wajahnya, lembut perkataannya, dan setiap ia hadir di dekat kita, tiba-tiba mengingat Allah itu menjadi mudahnya.

Mereka yang berjiwa hanif itu ketika dinasehati tidak mencibir, ketika menasehati tidak menggurui, dan ketika diajak kepada kebaikan menyegerakan diri.

Mereka yang berjiwa hanif itu melindungi perasaan orang-orang di sekitarnya, tak ada caci, maki, apalagi fitnah yang keji yang keluar dari bibirnya.

Mereka yang berjiwa hanif itu selalu senang saat berkumpul dengan orang-orang shalih dan berilmu, gusar saat berkumpul dengan Read the rest of this entry

Budak Ahli Nahwu

Dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki hendak menemui Sibawaih bermaksud ingin menandinginya dalam ilmu Nahwu. Ternyata Sibawaih sedang tidak berada di rumah. Lalu budak perempuan Sibawaih keluar menemui lelaki tersebut. Kemudian ia berkata kepada budak itu, “Di mana tuanmu, wahai budak?” Budak perempuan itu pun menjawab:

فاء إلى الفيء فإن فاء الفيء فاء

“(Tuan) pergi ke suatu tempat (berteduh), jika bayangan sudah pergi (maksudnya jika matahari berada di atas kepala -pen) maka dia (akan) kembali.”

Mendengar tuturan seperti itu, lelaki itu pun berkata:

والله إن كانت هذه الجارية فماذا يكون سيدها

“Demi Allah, jika budaknya saja begini, bagaimana pula dengan tuannya?!”

Lalu dia pun Read the rest of this entry

Penyebab Rusaknya Amal

Penyebab Rusaknya Amal

Syaikh Salim bin ‘Ied al Hilali

 

Hendaklah seorang muslim membentengi dirinya dengan cara musyaratah (persiapan yang matang), muraqabah (merasa diawasi oleh Allah), muhasabah (mengevaluasi kesalahan), mu’aqabah (memberikan sanksi terhadap kesalahan), mujahadah (sungguh-sungguh) dan mu’atabah (menegur kesalahan diri)

Ibnul Qayyim mengatakan : “ Setiap amalan itu pasti mempunyai permulaan dan tujuan akhir. Suatu amalan tidak akan menjadi ketaatan sampai didasarkan atas keimanan. Maka keimanan adalah pembangkitnya, bukan adat, bukan hawa nafsu, bukan pula karena mencari pujian dan kedudukan dan sebagainya. Tapi, permulaannya harus berasal dari iman dan tujuan akhirnya adalah pahala Allah ta’ala serta mengharapkan keridhaan-Nya, dan itulah al-ihtisab (mengharap pahala).”

“ Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka. Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun). Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (Al Mukminuun : 57-60)

Ya Allah, inilah hati kami di hadapan-Mu. Amalan kami tak pernah tersembunyi dari-Mu. Tetapkanlah hati kami di atas jalan-Mu yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau berikan nikmat kepada mereka, yaitu para Nabi, para shiddiq, para syahid dan orang-orang yang shalih dan merekalah sebaik-baik teman Read the rest of this entry

%d blogger menyukai ini: