Monthly Archives: Mei 2013

Sterilisasi Kios Stasiun UI? Setuju!

1117202-lks-stasiun-pondok-cina-620X310Bagi yang memahami, atau setidaknya pernah belajar fire protection engineering, tentunya setuju akan sterilisasi platform(peron) stasiun dari kegiatan jual-beli. Platform harus cukup untuk menampung jumlah maksimum penumpang yg ada dalam KRL. Adanya kios-kios di platform akan menambah densitas occupant(dalam hal ini penumpang KRL), sehingga menghambat sirkulasi dan evakuasi penumpang KRL. Penerapan e-ticketing untuk tarif progresif pun belum dapat dilakukan, karena kios-kios berapa pada “paid area”.

Jika setuju akan adanya kios dalam platform, harusnya sih juga setuju adanya penumpang yang naik di atap KRL. Pedagang butuh makan, penumpang butuh tumpangan. Menyediakan kios di platform, sama juga menyediakan kursi di atap KRL untuk mengakomodasi penumpang atap, tentunya kursinya dilengkapi dengan safety belt :D

“PT. KAI memprediksi 5-10 tahun ke depan, ComLine akan menjadi salah satu transportasi utama, dengan pengguna yang mungkin mencapai ratusan ribu orang tiap harinya. Oleh karena itu, platform memang harus disterilisasi dari saat ini, karena akan lebih sulit untuk melakukan sterilisasi di tahun-tahun mendatang.”[1]

Simak juga kata pak DI soal sterilisasi platform:
“Yang dipindahkan kan rakyat juga. Sebaiknya kerjasama Pemda dan KAI (penertiban pedagang). Saya minta KAI hubungi walikota untuk relokasi. Stasiun segitu saja, penumpang terus naik. Kalau pelayanan ditingkatkan, pelayanan baik, kan jumlah penumpang naik drastis. Nanti stasiun rapi dan bersih seperti di luar negeri,” kata Dahlan di FEUI Depok, Kamis (23/5/2013) via detik.com

“Membela HAM jangan sampai sambil melanggar HAM”

Jika melihat upaya pemprov DKI untuk melakukan normalisasi waduk Pluit, mendapat perlawanan dari warga yang tinggal di atas tanah negara tsb. Komnas HAM pun turun tangan, mengatakan ada indikasi pelanggaran HAM di sana. Padahal, tujuan normalisasi ialah untuk mengembalikan fungsi waduk pluit sebagai daerah resapan air, yang tentu berkaitan dengan hak ratusan ribu warga untuk tidak terkena banjir. Jadi jangan sampai mengorbankan hak ratusan ribu orang, hanya karena nak tinggal seribu orang yang menempati tanah yang juga bukan haknya. Begitu juga dengan sterilisasi platform stasiun, jangan sampai mengorbankan hak keselamatan dan kenyamanan puluhan ribu orang pengguna KRL, karena puluhan orang yang memupuk harta di atas tanah negara.

nb: Tulisan ini hanya mendukung upaya sterilisasi platform dari kios. Bukan setuju akan penggusuran yang dilakukan secara sepihak. :)Cairo-Platform


[1] disampaikan oleh Prof. Yulianto S. Nugroho, Ph.D. dalam perkuliahan Teknik Keselamatan dan Proteksi Kebakaran. Kemudian beliau melanjutkan dengan suara lirih, “.. Sayang sekali teman-teman anda berusaha untuk menghalangi usaha yang dilakukan PT KAI ini.”

Pembongkaran Makam Hujr bin ‘Adiy

makam hujr bin adi suriahBegitu buka internet hari ini, saya mendapatkan sebuah kabar mengenai pembongkaran makam salah seorang shahabat Nabi, Hujr bin ‘Adiy -radhiallahu’anhu di Suriah. memang cukup mengagetkan, karena perbuatan asal bongkar makam merupakan bentuk perendahan terhadap jasad kaum muslimin, terlebih jika orang tersebut memiliki kedudukan yg tinggi dalam Islam dan kaum muslimin.

Setelah sedikit menggali informasi, memang makam tersebut telah dibongkar beberapa hari lalu, namun berita mengenai siapa yg bertanggung jawab atas pembongkarannya masih simpang siur (menurut saya). Beberapa versi yg saya temukan:
1. Mujahidin FSA membongkar & mengangkat jasad yg ada dalam makam tersebut, dengan sangat bangga, kemudian menyebarkan foto pembongkaran makam secara online (bahkan ada foto yg diklaim sebagai jenazah dari Hujr bin ‘adiy). kemudian memindahkan jenazahnya ke tempat yg tidak diketahui.
2. FSA (dari front an Nushrah) menggali makam tsb, namun tidak menemukan satu jasad pun di dalamnya, artinya itu makam kosong.
3. FSA menolak tuduhan bahwa mereka yg membongkar makam tersebut dan menyatakan bahwa rezim Syiah Basyar As’ad lah yang melakukan pembongkaran makan untuk Read the rest of this entry

%d blogger menyukai ini: