Arsip Blog

Ada Apa dengan Nisfu Sya'ban?

Apakah Nisfu Sya’ban itu?

Nisfu artinya separuh atau pertengahan, sedangkan Sya’ban ialah bulan ke-8 dari tahun Hijriah. Nisfu sya’ban berarti pertengahan bulan Sya’ban, yaitu tanggal 15 Sya’ban.

Adakah keutamaan tertentu di malam Nisfu Sya’ban?

Ada hadits yg umum yang menjelaskan keutamaan bulan Sya’ban, diantaranya;

Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah berpuasa dalam sebulan sebagaimana Beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam berpuasa pada bulan Sya’bân. Lalu ada yang berkata, ‘Aku tidak pernah melihat anda berpuasa sebagaimana anda berpuasa pada bulan Sya’bân.’ Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam menjawab, ‘Banyak orang melalaikannya antara Rajab dan Ramadhân. Padahal pada bulan itu, amalan-amalan makhluk diangkat kehadirat Rabb, maka saya ingin amalan saya diangkat saat saya sedang puasa.[HR Ahmad, 5/201 dan Nasâ’i, 4/102]

Dan memang ada satu dalil khusus -yang sah- tentang keutamaan malam nisfu Sya’ban;

Dari Mu’adz bin Jabal, Read the rest of this entry

Keutamaan Wirid Sebelum Tidur

http://coffee-m.exteen.com/

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Sholawat serta salam semoga tercurah pada Rasulullah beserta keluarga, shahabat, dan pengemban sunnah beliau.

Tidur merupakan kebutuhan pokok setiap manusia dan telah Allah jadikan tidur kita untuk beristirahat, mengembalikan kekuatan dan energi yang telah terpakai pada siang hari. Sebagaimana firman Allah,

“dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat,”(QS.An-Naba:9)

Ketika seseorang sedang tidur, sesungguhnya ia sedang diwafatkan oleh Allah ta’ala. Maksud wafat disini yaitu wafat sughra (wafat kecil), karena ketika seorang tidur, ruh orang tersebut diangkat sementara oleh Allah dari jasadnya. Kemudian ketika ia terbangun dari tidurnya, ruhnya dikembalikan oleh Allah ke jasadnya seperti semula. Namun, pernahkah terpikirkan oleh kita ketika kita tidur dan ruh kita diangkat oleh Allah, Allah tidak mengembalikan ruh ke jasad kita? Pernah kita mendengar kabar akan seseorang yang tidur kemudian ia meninggal di tempat tidurnya, akankah hal itu terjadi pula pada diri kita? Tidur yang pada hakikatnya merupakan Wafatus Sughra, berubah menjadi Wafatul Kubra (wafat besar/ meninggal dunia). Sudahkah kita siap bila ruh ini tidak dikembalikan lagi ke jasadnya selagi kita tidur? Oleh  karena itu ikhwahti fillah, persiapkanlah dengan persiapan yang sebaik-baiknya. Alangkah indahnya saat malaikat maut datang menjemput disaat kita terlelap, diri ini telah siap untuk dijemput menghadap Sang Pencipta, Allah ‘azza wajalla.

Berikut merupakan dzikir/ bacaan sebelum tidur yang di dalamnya terdapat doa-doa yang warid dari Rasulullah, yang dimana doa-doa tersebut menggambarkan penyerahan diri, ketawakkalan, dan keikhlasan seorang hamba kepada Rabb nya. Semoga dapat kita amalkan dalam keseharian kita.

download mp3 dzikr sebelum tidur:  Syaikh Misyari Rasyid-Dzikr sebelum tidur

Adzkarun Naum:

1. Mengumpulkan dua tapak tangan. Lalu ditiup dan dibacakan Qul huwal-lahu ahad, Qul a’uudzu birabbil falaqi dan Qul a’uudzu birabbin naas. Kemudian dengan dua tapak tangan mengusap tubuh yang dapat dijangkau dengannya. Dimulai dari kepala, wajah dan tubuh bagian depan tiga kali. [HR. Al-Bukhari 9/62 dengan Fathul Baari dan Muslim 4/1723]

2. Barangsiapa membaca dua ayat tersebut (Al-Baqarah (2): 385-386) pada malam hari, maka dua ayat tersebut telah mencukupkan-nya.” [HR. Al-Bukhari dengan Fathul Bari 9/94 dan  Muslim 1/554]

3.

بِاسْمِكَ رَبِّيْ وَضَعْتُ جَنْبِيْ، وَبِكَ أَرْفَعُهُ، فَإِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِيْ فَارْحَمْهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

“Dengan nama Engkau, wahai Tuhanku, aku meletakkan lambungku. Dan dengan namaMu pula aku bangun daripadanya. Apabila Engkau menahan rohku (mati), maka berilah rahmat padanya. Tapi, apabila Engkau melepaskannya, maka peliharalah, sebagaimana Engkau memelihara hamba-hambaMu yang shalih.”[HR. Al-Bukhari 11/126, Muslim 4/2084.]

4.

اَللَّهُمَّ إِنَّكَ خَلَقْتَ نَفْسِيْ وَأَنْتَ تَوَفَّاهَا، لَكَ مَمَاتُهَا وَمَحْيَاهَا، إِنْ أَحْيَيْتَهَا فَاحْفَظْهَا، وَإِنْ أَمَتَّهَا فَاغْفِرْ لَهَا. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ

“Ya Allah! Sesungguhnya Engkau menciptakan diriku, dan Engkaulah yang akan mematikannya. Mati dan hidupnya hanya milikMu. Apabila Engkau menghidupkannya, maka peliharalah. Apabila Engkau mematikannya, maka ampunilah. Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepadaMu keselamatan.”[HR. Muslim 4/2083, Ahmad  2/79] Read the rest of this entry

%d blogger menyukai ini: